bersama Bapa Firmus Batseran
dan istrinya Fiktoria Kelbulan,
serta putri mereka Faleria Batseran
(Selasa, 14 Oktober 2025)
Pater Eman Embu SVD
Rumah, Kitab Suci,
dan Josef Freinademetz
Pada hari terakhir visitasi di Olilit Timur, Pulau Yamdena, bagian dari Kepulauan
Tanimbar, Selasa 14 Oktober 2025, kami mampir di rumah bapak Boy dan Ibu Ria; lengkapnya,
Firmus Batseran dan Fiktoria Kelbulan. Letak rumah itu tak jauh dari SMAK
Olilit. Rumah ini menjadi bagian dari sejarah awal misi SVD di Olilit,
Kepulauan Tanimbar.
“Kita mampir di rumah Pak Boy dan Ibu Ria. Itu adalah rumah pertama tempat
kami tinggal sebelum kami pindah ke rumah biara sekarang ini,” kata Pater Andre
Koa.
Pada dinding ruang depan rumah itu tergantung replikasi lukisan St.
Arnold Janssen dan St. Josef Freinademetz. Ukuran lukisan tidak besar. Itu tak
lain adalah lukisan karya seniman Giorgio Scarato dari Italia untuk keperluan
Perayaan Kanonisasi Arnold Janssen dan Josef Freinademetz. Lukisan itu digantung di alun-alun
Basilika Santo Petrus pada hari Kanonisasi Arnold Janssen dan Josef
Freinademetz pada Kamis, 5 Oktober 2003.
Ada beberapa simbol dalam lukisan Giorgio Scarato tadi. Tapi, dua simbol
penting dari lukisan Giorgio Scarato, yaitu Kitab Suci yang digenggam oleh Santo
Arnold Janssen dan salib yang digenggam oleh Santo Josef Freinademetz hendak saya
garisbawahi di sini.
Kita tahu dengan pasti bahwa Firman Allah adalah tiang induk kerohanian Arnold Janssen. Karenanya, ketika Arnold Janssen mendirikan Kongregasi kita,
ia menetapkan bahwa tujuan utama dari kongregasi misi yang didirikannya adalah
untuk mewartakan Firman Allah. Dan nama dari kongregasi misi itu adalah Societas
Verbi Divini (Serikat Sabda Allah).
Salib adalah simbol kehidupan Josef Freinademetz. Salib Kristus
menggambarkan penderitaan, pengorbanan, dan kesetiaan dalam iman dari Josef
Freinademetz dalam hidup dan karya sebagai misionaris. Josef Freinademetz adalah
contoh tentang seseorang yang demi Tuhan dan misi-Nya, benar-benar mengosongkan
dirinya, meninggalkan kenyamanan, dan melayani sampai akhir dalam ketaatan dan
cinta yang tak terbagi kepada Tuhan dan umat.
Rumah Keluarga, Rumah Misi
Keluarga Bapa Boy Batseran dan Ibu Ria Kelbulan merelakan rumahnya bagi
misionaris-misionaris Sabda Allah tinggal selama satu tahun 8 bulan, sambil
menunggu pembangunan rumah biara SVD yang sekarang menjadi tempat tinggal
konfrater kita.
Bapa Boy dan Ibu Ria mempunyai tiga orang anak; dua perempuan dan satu laki-laki;
Ina Batseran, Fara Batseran, dan Beni Batseran.
“Rumah keluarga Bapa Boy Batseran awalnya belum layak tinggal. Namun, Pater
Yulius Kuway SVD saat itu sedang mencari rumah untuk para misionaris SVD yang
datang ke Olilit Timur, membuat pendekatan dan keluarga Bapa Boy Batseran merelakan rumahnya untuk kita
tinggal. Tapi, dinding rumah itu harus diplester, pintu jendela mesti dipasang, keramik belum ada; masih lantai semen kasar,” kata Pater Andre Koa.
Setelah perbaikan rumah itu selesai dan layak huni, baru pada Juli 2021, Pater
Andre Koa dan kedua Frater TOP (angkatan pertama), Frater
Yakobus Meo Lalu SVD dan Frater Gregorius Agung da Cruz Siga SVD, menghuni
rumah tersebut. Satu bulan kemudian, tanggal 18 Agustus 2021, Br. Mansuetus
Heribertus SVD tiba dan bergabung bersama Pater Andre dan kedua frater.
Pada 24 September 2021, Mgr. Petrus Kanisius Mandagi MSC sempat mengunjungi samasaudara SVD tinggal sementara di rumah ini. Kungungan singkat ini mendapat sambutan hangat dan dukungan yang luar biasa dari umat rukun setempat, yaitu rukun Yohanes Paulus II dan rukun Fransiskus Asisi.
Lalu pada 22 Mei 2022, Mgr. Seno Ngutra, melakukan kunjungan kanonik singkat ke rumah ini, setelah beliau ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Amboina menggantikan Uskup Mandagi. Dalam kunjungan ini Uskup Seno mengatakan bahwa akan dibuka kuasi paroki di Olilit Timur bagian tengah dan akan ditangani oleh samasaudara SVD.
Pada bulan Juli 2022 datanglah dua frater TOP (angkatan kedua), yaitu Silverius Tio Uran dan Yoseph Plea.
Pater Xavier Thirukudumbam SVD, yang melakukan Visitasi General di Tanimbar pada 21-23 Agustus 2022 juga mampir di rumah ini. Xavier melihat lokasi sekolah lama, lokasi sekolah baru, dan mengunjungi keluarga dari Pater Yulius Kuway. Ia menginap di sebuah hotel di Saumlaki.
Pater Benediktus Suhendra Yustisianto diutus oleh Provinsial dan Dewan untuk memperkuat tim misi Kepulauan Tanimbar, dan ia tiba pada Januari 2023.
Rumah Bapa Boy dan Ibu Ria ditempati oleh Tim Misi Tanimbar sampai bulan Juni 2023. Pada bulan Juli 2023, samasaudara Tim Misi Tanimbar berpindah lagi ke rumah Bapa Petrus Paulus Kuway dan Ibu Oktaviani Du’a Pagan.
Bapa Petrus Kuway adalah adik bungsu dari Pater Yulius Kuway. Istrinya, Ibu Yani berasal dari Maumere. Rumah tersebut terletak di depan kompleks bangunan lama SMAK St. Lukas, yang juga sejak awal dipakai sebagai kantor Yayasan. Beberapa kamar dari rumah tersebut difungsikan sebagai asrama untuk anak-anak sekolah yang datang dari kampung-kampung yang jauh.
Frater TOP (angkatan ketiga), Febronius Meni Subun tiba di Olilit pada
Juli 2023. Lalu, Pater Oktavianus Serafim Edor yang ditempatkan di Provinsi Ende, diutus
ke Olilit dan ia tiba di Olilit pada bulan April 2024; pada tahun ini datang
lagi seorang frater TOP (angkatan keempat), yaitu, Yohanes Nepa Toribia. Dan sekarang ini, seorang frater TOP (angkatan kelima),
Kristoforus Kapitan sedang bertugas di Olilit.
“Pada 10 Agustus 2024, kami pindah dan menempati untuk pertama kalinya
rumah Biara St. Arnold Janssen, Olilit Timur, yang belum selesai pengerjaannya.
Pada 15 Agustus 2024, rumah biara itu diberkati dalam perayaan Ekaristi sederhana
yang dipadukan dengan upacara pembaruan kaul Frater Yon Nepa dan Frater Bona Sampurna,”
kata Pater Benediktus Yustisianto Suhendra.
Perayaan Ekaristi pemberkatan rumah dipimpin oleh Pater Andre Koa dan
didampingi oleh Pater Benediktus Yustisianto Suhendra dan Oktavianus Serafim Edor. Keluarga besar
Soverdia Tanimbar dan para bapa-ibu guru dan siswa-siswi SMAK St. Lukas hadir
dalam acara pemberkatan ini.
Penggalangan Dana Misi
Bulan September 2023, pekerjaan lanjutan pembangunan rumah Biara di Olilit
dimulai kembali. Dalam sebuah pertemuan via zoom meeting bersama Provinsial dan dewan Provinsi SVD Ende, juga seluruh konfrater Distrik Amboina,
dibicarakan rencana penggalangan dana untuk melanjutkan pembangunan rumah Biara.
Konfrater-konfrater kita terlibat dalam penggalangan dana untuk misi. Atas
izinan Provinsial, pada bulan Desember 2023 sampai Januari 2024 Pater Suhendra
Yustisianto berangkat ke Jakarta untuk menggalang dana, tepatnya di Paroki St.
Bartolomeus Taman Galaxi, dalam koordinasi dengan pastor paroki, Pater
Leonardus Piter Pungki Setyawan SVD.
“Banyak umat Taman Galaxi yang secara sukarela berdonasi, juga beberapa
kelompok kategorial seperti Soverdia Taman Galaxi dan WKRI Dekenat Bekasi yang
berdonasi cukup besar. Tujuan dari rangkaian penggalangan dana ini hanya untuk
penyelesaian pembangunan rumah biara. Tetapi, kita bersyukur karena saya dipertemukan
dengan seorang umat Paroki Taman Galaxi, Bapa Fredy Tanus yang kemudian menjadi
donatur tunggal yang membangun sebuah kapela untuk komunitas Biara SVD di
Olilit. Beliau datang langsung ke Olilit bersama Pater Anselmus Selvus SVD,
pembimbing rohaninya, dan para tukang dari Jawa yang dipimpin oleh Mas Kani dan
Mas Rudi untuk mengerjakan pembangunan Kapela,” kata Pater Suhendra dengan rasa syukur.
Sesudah selesai dibangun, kapela Biara itu diberkati pada 2 Januari 2025 oleh Uskup Seno Ngutra, Uskup Keuskupan Amboina. Pater Yanuarius Lobo SVD, Sekretaris Misi Provinsi SVD Ende hadir dalam acara pemberkatan itu mewakili Provinsial.
Bulan September 2024, Pater Benediktus Suhendra Yustisianto berangkat lagi ke
Jakarta untuk menggalang dana untuk
kelanjutan pembangunan pendopo rumah Biara dan untuk pengadaan kelengkapan rumah
Biara. Kali ini penggalangan dana diadakan di Paroki St. Alfonsus Rodriguez,
Pademangan. Tentu, ini dilakukana dalam koordinasi dengan Pastor Paroki, Pater
Rido Eduard Simatupang SVD.
Penggalangan dana yang kedua kalinya ini disponsori oleh seorang donatur, Bapa
Soegiharto Hongty yang menjadi donatur terbesar untuk rumah biara bersama
Soverdia Paroki Pademangan.
“Selain penggalangan dana di Jakarta, di Olilit sendiri ada begitu banyak
umat dari rukun-rukun di Paroki Ratu Rosario Suci Olilit Timur,
kelompok-kelompok kategorial, dan sejumlah sahabat kenalan di kota Saumlaki
yang membantu kita secara sukarela dengan tenaga maupun sejumlah besar bahan material
untuk pengerjaan rumah Biara,” lanjut Pater Suhendra.
Kitab Suci dan Salib Kristus
Atas nama Kongregasi, saya sudah menulis surat ucapan terima kasih kepada
para donatur. Saya juga menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapa Boy, Ibu
Ria, dan anak-anak mereka. Terima kasih juga untuk Bapa Petrus Kuway dan Ibu Oktaviani Du’a Pagan serta anak mereka Guilio Kuway. Rumah mereka dan hidup
mereka telah menjadi bagian dari misi Kongregasi kita di Kepulauan Tanimbar. Semoga
Tuhan senantiasa memberikan berkat surgawi dan duniawi bagi mereka.
Kembali ke lukisan dari Girogio Scarato di atas, semoga keluarga-keluarga
ini, keluarga para donatur misi kita, dan semua keluarga Katolik di
paroki-paroki yang kita layani, selalu dengan teguh menggenggam Kitab Suci dan
Salib Kristus.
Kitab Suci adalah Sabda Allah yang hidup dan menyatakan kehendak-Nya bagi
umat manusia. Ia bukan sekadar huruf-huruf dan kata-kata untuk dibaca. Tidak,
sama sekali tidak. Kitab Suci adalah terang
ilahi yang menuntun langkah hidup; “Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku
dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105). Semoga rumah-rumah kita menjadi
tempat di mana Kitab Suci secara tetap dibaca secara pribadi dan bersama-sama. Dalam
konteks rumah—baik rumah keluarga maupun komunitas religius—Kitab Suci menjadi
dasar dan sumber kerohanian yang tak tergantikan. Ketekunan dalam membacanya
secara pribadi dan bersama memperdalam pengenalan dan pengalaman akan Allah; pengalaman
yang punya daya ubah; buahnya adalah belas kasih, keadilan, dan kerukunan.
Salib, adalah lambang kasih Allah yang menyelamatkan, perwujudan misteri
Paskah Kristus: wafat dan kebangkitan demi keselamatan dunia. Dalam rumah-rumah
orang beriman, salib bukan sekadar asesoris, melainkan suatu panggilan untuk
hidup dalam kasih yang memberi diri, kesetiaan yang radikal, dan pengalaman
mengampuni dan diampuni yang membebaskan dan membawa sukacita Injili.***

