Dari “Meja Provinsial” kali ini, saya menulis pesan untuk para samasaudara, anggota JPIC-SVD, Paguyuban misioner SOVERDIA, dan rekan-rekan serta sahabat-sahabat SVD dalam karya misi TUHAN.

Be compassionate just as your Father is compassionate,” (Luk 6: 36).

Saudari-saudara yang budiman,

Sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita, bahwa kita berhadapan dengan orang-orang yang menderita. Kita sendiri pun tidak imun terhadap penderitaan. Kita sebaiknya secara sadar menggunakan diksi ‘mereka yang terdampak’ bukan 'korban' untuk memberi penekanan bahwa de facto, para penderita tidaklah pasif dan tak berdaya, tetapi dalam dirinya selalu ada daya survival, selalu ada ketangguhan (resilience) untuk bangkit dari kesulitan atau masalah yang dihadapi. Belakangan, di Ende, kita berhadapan dengan mereka yang terdampak oleh penggusuran-penggusuran.

Dalam grup-grup WhatsApp kita, ada diskusi yang menarik dan kritis tentang solidaritas dengan mereka yang terdampak, kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Ini adalah hal yang baik dan hendaknya terus dilanjutkan agar pemahaman dan keyakinan kita terkait hal ini menjadi lebih jelas dan murni. Tapi, saya garisbawahi bahwa diskusi-diskusi itu hendaknya bermuara pada panggilan kepada tindakan-tindakan compassio (pati dan cum = menderita bersama) dan solidaritas yang nyata. Untuk kita, compassio tidaklah sebatas pilihan, tetapi panggilan untuk mengambil bagian dalam kasih Allah. Dan juga compassio adalah panggilan kepada pertobatan -  tidak ada pengecualian, siapa pun dia -  jika telah menjadi bagian penyebab penderitaan sesama.

Dalam Injil, Yesus menunjukkan belas kasih-Nya (compassion) kepada semua orang; kepada manusia sebagai sesama, bukan manusia sebagai objek, alat, atau ancaman. Sebagai pengikut-Nya, sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah yang adil dan Allah yang belaskasih, kita menunjukkan compassio dan solidaritas kepada orang yang menderita. Hadir dan ada bersama mereka yang terdampak, semata-mata karena mereka adalah manusia; dan manusia yang sedang sangat menderita. Titik. Tidak memilah-milah! Tidak membeda-bedakan! 

Manusia yang menderita bukanlah angka-angka statistik. Bukan perkara banyak atau sedikit! Bukan ihwal satu atau seribu satu! Lantaran yang menderita itu adalah manusia, maka satu yang menderita sama artinya dengan banyak. Satu menderita sudah menuntut compassio sebagai suatu tindakan. 

Saya mengutip ungkapan dari tradisi rohani Krister Latin, “Hodie mihi, cras tibi” yang artinya kurang lebih adalah ‘hari ini saya, besok giliranmu.” Ungkapan ini dalam konteksnya adalah pengingat akan kematian (memento mori). Tapi, saya gunakan dalam konteks penderitaan. Penderitaan dan kemalangan bisa menimpa siapa saja. Agar tidak disalahmengerti, terkait imperatif compassio, saya tidak mempromosikan prinsip 'memberi untuk menerima'. Tidak! Saya sedang menekankan bahwa penderitaan bisa menimpa siapa saja dan bahwa compassio yang relasional menjadi sikap dasar dan tindakan Injili yang sifatnya imperatif untuk kita.

Patut ditambahkan bahwa tak jarang, dalam latar belakang dan situasi tertentu, compassio dan solidaritas dihubungkan dengan kesalahan. Injil menulis bahwa Yesus memberi makan (baca: memberi kehidupan) kepada semua. Ketika berhadapan dengan orang-orang yang menderita kelaparan, Yesus tidak membedakan mana yang steril dan imun terhadap kesalahan dan mana yang penuh dengan kesalahan. Tidak, sama sekali tidak! Yesus memberi kehidupan kepada semua.

Ini tidak berarti kita mentolerir, apalagi mendukung, kesalahan. Sama sekali tidak. Yang salah dan kesalahan hendaknya diperbaiki. Tapi kita tidak membuat kriteria bahwa hanya jika seseorang imun dan steril terhadap kesalahan barulah kita menunjukkan compassio kepada mereka.

Akhirnya, saya menutup dengan kata-kata dari Gustavo GutiĆ©rrez, teolog kenamaan dari Peru, “One act of solidarity or love means more than a thousand books of theology,” (Satu tindakan solidaritas atau cinta lebih bermakna daripada seribu buku teologi).

Ende 08 Mei 2026
St. Arnold Janssen dan St. Josef Freinademetz
selalu mendoakan kita

Pater Eman Embu SVD
Superior Provincialis 



Popular posts from this blog