|
|
Dalam visitasi di Distrik SVD
Amboina, saya menyiapkan waktu untuk mengunjungi keluarga samasaudara kita. Kita
sering meyebut mereka dengan istilah keluarga besar St. Arnold Janssen atau
keluarga misionaris. Mengunjungi anggota keluarga adalah hal yang sangat lazim
dalam masyarakat dan kebudayaan kita. Dengan kunjungan-kunjungan itu rasa
sebagai suatu keluarga sungguh dialami dan ikatan kekeluargaan diperkuat.
Keluarga-keluarga telah
mempersembahkan anak-anak mereka untuk misi melalui Serikat Sabda Allah. Kadang,
itu adalah anak tunggal dalam keluarga. Mereka diutus oleh Serikat ke pelbagai
Provinsi, Regio, dan Misi. Dengan mobilitas yang mudah dan cepat banyak anak
tinggal jauh dengan orangtua mereka. Dan pada hari tua, para orang tua itu cukup
sering sendirian di rumah. Dalam situasi seperti ini betapa kita sungguh
mengalami bahwa donasi mereka adalah donasi utama dan terbesar untuk Kongregasi
kita, untuk misi.
Benar bahwa dengan kemudahan
komunikasi, semisal melaui video-call, seperti sekarang ini, pasti orang
tua bisa berkontak dengan para konfrater kita. Kendati demikian, saya kira,
kehadiran Serikat, melalui pimpinan, adalah hal baik untuk keluarga-keluarga
sama saudara kita; paling kurang untuk memastikan bahwa Kongregasi tetap berada
bersama anak-anak mereka dan Kongregasi tetap memperhatikan dan mendoakan orang
tua dan anggota keluarga para misionaris; apalagi pada hari tua mereka.
***
Ketika berada di kota Ambon, bersama
Pius Lawe, saya mengunjungi keluarga Pater Lukas Batmomolin (1) (USC).
Kebetulan, Pater Lukas sedang berlibur dan saat itu ada di rumah. Lukas
menyampaikan banyak terima kasih bahwa dalam kesempatan visitasi ini keluarganya
dikunjungi. Ibu dari Pater Lukas mengingat dan menyebut dengan teliti nama-nama
samasaudara SVD yang pernah mengunjunginya.
Tatkala kami berada di Bula,
Ibukota Kabupaten Seram Bagian Timur, dalam perjalanan ke Pulau Kesui dan
kemudian ke Pulau Teor, kami bertemu dengan saudari dari Pater Lukas
Batmomolin, Ibu Oca; lengkapnya Rosa Farak Christina Batmomolin (2). Ibu Oca
adalah kepala kantor Pertanahan di sana. Ia datang ke hotel tempat kami
menginap; membantu membayar biaya hotel dan mengajak kami makan malam di salah
satu rumah makan.
Di Masohi saya menemui keluarga
dari Frater Novis Hendrikus Arwalembun (3) (alm.) Konfrater muda ini meninggal
di Kuwu tahun 2022 karena kecelakaan.
Ketika berada di Saumlaki dan
Olilit, kami mengunjungi keluarga dari Pater Agustinus Fasak (4) (IDR). Gusti
sekarang sedang belajar bahasa Inggris di Chicago. Ketika kami berada di rumah,
adik perempuannya, Evi Fasak, langsung membuat video call dengan Gusti.
Dan kami menyalami dan bercerita dengan Gusti bahwa kami ada di rumahnya;
mengunjungi ibunya, dan anggota keluarganya yang lain.
Dari situ, kami berpindah ke
rumah Frater Bernardus Rangkoly (alm.) (5). Frater Rangkoly meninggal di
Surabaya dan dikuburkan di Pekuburan Kembang Kuning, Surabaya. Seorang
saudaranya, Jemris Timi Rangkoly, adalah imam keuskupan Amboina. Ayah dan ibu
Frater Rangkoly hadir di Komunitas Olilit dalam acara malam perpisahan pada 14
Oktober, sebelum saya kembali ke Ambon pada keesokan harinya.
Berikutnya adalah keluarga Pater Risko Batbual (PNG) (6). Ayah dan ibu
Risko sudah meninggal. Rumah mereka di Saumlaki kosong, hanya dijaga oleh Violata
Batbual, keponakan perempuannya. Di rumah itu foto Risko mengenakan kasula tergantung
di dinding; ada meja altar misa di kamar depan rumah.
Menyusul adalah keluarga Pater Antontius Sarto Mitakda (alm.) (7).
Sarto Mitakda adalah anggota SVD Provinsi Jawa. Ia meninggal karena covid.
Karena kesulitan mengurus dan mendapatkan tempat pemakaman pada masa wabah
covid, Sarto Mitakda dikuburkan di Pemakaman San Diego Hills.
Menyusul adalah Keluarga Pater Boby,
nama lengkapnya adalah Yakobus Ongriwalu (Brasil Selatan) (8). Kami sudah sampaikan
bahwa waktu kami terbatas; hanya mampir dan bersalaman. Tak usah siapkan
apa-apa. Kendati demikian, tetap saja saudarinya Ibu Yanti Ongriwalu menyiapkan
makan siang. “Ini sudah jam dua belas. Jam makan siang. Pastor-pastor makan apa
adanya lalu mengunjungi keluarga yang lain,” kata Ibu Yanti. Kami juga membuat video
call dengan Boby.
Terakhir, adalah keluraga Pater Yulius
Kuway (IDE) (9). Kunjungan kami menjadi kesempatan reuni keluarga Pater Yulius.
Semua anggota keluarga datang dan berkumpul di “Rumah Tua” rumah orang tua dari
Pater Yulius. Syukur bahwa Sr. Rosalina Kuway DSY, saudari dari Pater Yulius,
juga lagi ada di rumah; dengannya reuni menjadi lebih lengkap.
Kami makan siang lagi di rumah Pater
Yulius. Ketika berpamitan pulang, saudari dari Pater Yulius, Ibu Sensi Kuway,
yang sedang sakit mengalungkan sarung Tanimbar kepada saya. “Pastor doakan saya
selalu,” katanya.
***
Hal yang menggembirakan ialah
bahwa konfrater kita yang bekerja di Masohi, Olilit, dan Saumlaki mengenal
keluarga-keluarga dari samasaudara kita. Mereka mempunyai kontak yang tetap
dengan keluarga-keluarga tersebut. Sesekali mereka mengunjungi
keluarga-keluarga dari samasaudara kita.
Tentu saja, apa yang sudah mereka
lakukan adalah hal yang sangat baik yang hendaknya dengan setia di lanjutkan.
Karena mengenal mereka semua dan
menyimpan nomor-nomor kontak mereka, maka dalam kunjungan ke keluarga-keluarga
misionaris tersebut, Pater Andre Koa menjadi penghubung dan penjaga waktu; biar
kami tak terlalu lama berada di suatu rumah. Pater Candra Kasiwali dan Frater
Ito Kapitan menjadi penunjuk jalan dan teman seperjalanan.
Untuk memudahkan kunjungan-kunjugan ke keluarga-keluarga samasaudara tersebut, Pater Pius Lawe menjadi driver kami yang baik dan setia. Bukan hanya di Olilit dan Saumlaki, Pius adalah driver yang baik selama saya berada di Ambon dan mengelilingi Pulau Seram. Sebagai Superior Distrik, Pius menjadi driver visitasi; ia mengatur jadwal visitasi dengan baik dan menemani saya dalam perjalanan mengunjungi semua samasaudara. Karenanya, visitasi berjalan lancar. Apresiasi dan ucapan terima kasih harus disampaikan kepada Pater Pius Lawe.***
Post-script....................................
Setelah catatan ini ‘diposting’ di grup WhatsApp kita, Pater Suhendra Yustisianto, memberikan catatan tambahan berikut ini:
Luar biasa sekali Pater,
mengunjungi rumah keluarga para konfrater. Saya ingat baik sekali pengalaman
persaudaraan yang erat bersama keluarga para konfrater kita.
Saudari dari almarhum Pastor
Sarto Mitakda, mama Melda dan mama Dika, selalu datang ke rumah hunian
sementara SVD di Olilit dulu setiap bulannya pada peringatan tanggal kematian
Pater Sarto; mereka membawa bekal untuk makan-minum bersama, sayangnya beliau
sakit saat ini.
Juga bapa guru Rangkoli, ayah
dari almarhum Frater Rangkoli SVD yang selalu setia datang setiap ada doa dan
misa mingguan di rumah SVD meskipun selalu naik ojek dan pulang kami hantar. Satu cara mereka menghadirkan ingatan tentang
anak/saudara mereka yang dipersembahkan untuk SVD dan telah tiada.
Juga mama janda Fasak, ibu dari Pater Gusti yang selalu setia. Ada seorang mama kecil dari Pastor Risco Batbual yang selalu setia datang ke Rumah SVD, tetapi sekarang sudah sakit dan hanya di kursi roda di rumahnya di Saumlaki. Juga keluarga Pater Boby Ongirwalu yang selalu setia.
Dan yang paling banyak
membantu dalam susah maupun senang, selalu ada bersama, jadi tempat berbagi
ialah keluarga Pater Yulius Kuway. Apa saja yang ada di rumah mereka dapat kita
ambil dan pakai untuk kebutuhan rumah SVD.
Mama Sensy Kuway, pribadi
yang lemah secara fisik tetapi pandai membuat kue dan tidak pernah lupa SVD untuk
setiap kue hasil buatan tangannya. Pemberian yang sederhana tetapi penuh arti
sebagai dukungan yang berarti untuk SVD. Mama Refi Kuway, donatur minyak tanah
untuk rumah SVD yang selalu murah hati untuk memberi.
Salam untuk semua orang-orang
baik di Tanimbar.***


