Bersama keluarga dari 
Pater Antonius Sarto Mitakda (SVD, alm.)
Saumlaki, 14 Oktober 2025

Catatan Visitasi (7): 
Pater Eman Embu SVD
Keluarga Arnoldus, 
Keluarga Misionaris


Dalam visitasi di Distrik SVD Amboina, saya menyiapkan waktu untuk mengunjungi keluarga samasaudara kita. Kita sering meyebut mereka dengan istilah keluarga besar St. Arnold Janssen atau keluarga misionaris. Mengunjungi anggota keluarga adalah hal yang sangat lazim dalam masyarakat dan kebudayaan kita. Dengan kunjungan-kunjungan itu rasa sebagai suatu keluarga sungguh dialami dan ikatan kekeluargaan diperkuat.  

Keluarga-keluarga telah mempersembahkan anak-anak mereka untuk misi melalui Serikat Sabda Allah. Kadang, itu adalah anak tunggal dalam keluarga. Mereka diutus oleh Serikat ke pelbagai Provinsi, Regio, dan Misi. Dengan mobilitas yang mudah dan cepat banyak anak tinggal jauh dengan orangtua mereka. Dan pada hari tua, para orang tua itu cukup sering sendirian di rumah. Dalam situasi seperti ini betapa kita sungguh mengalami bahwa donasi mereka adalah donasi utama dan terbesar untuk Kongregasi kita, untuk misi.

Benar bahwa dengan kemudahan komunikasi, semisal melaui video-call, seperti sekarang ini, pasti orang tua bisa berkontak dengan para konfrater kita. Kendati demikian, saya kira, kehadiran Serikat, melalui pimpinan, adalah hal baik untuk keluarga-keluarga sama saudara kita; paling kurang untuk memastikan bahwa Kongregasi tetap berada bersama anak-anak mereka dan Kongregasi tetap memperhatikan dan mendoakan orang tua dan anggota keluarga para misionaris; apalagi pada hari tua mereka.

***

Ketika berada di kota Ambon, bersama Pius Lawe, saya mengunjungi keluarga Pater Lukas Batmomolin (1) (USC). Kebetulan, Pater Lukas sedang berlibur dan saat itu ada di rumah. Lukas menyampaikan banyak terima kasih bahwa dalam kesempatan visitasi ini keluarganya dikunjungi. Ibu dari Pater Lukas mengingat dan menyebut dengan teliti nama-nama samasaudara SVD yang pernah mengunjunginya.

Tatkala kami berada di Bula, Ibukota Kabupaten Seram Bagian Timur, dalam perjalanan ke Pulau Kesui dan kemudian ke Pulau Teor, kami bertemu dengan saudari dari Pater Lukas Batmomolin, Ibu Oca; lengkapnya Rosa Farak Christina Batmomolin (2). Ibu Oca adalah kepala kantor Pertanahan di sana. Ia datang ke hotel tempat kami menginap; membantu membayar biaya hotel dan mengajak kami makan malam di salah satu rumah makan.

Di Masohi saya menemui keluarga dari Frater Novis Hendrikus Arwalembun (3) (alm.) Konfrater muda ini meninggal di Kuwu  tahun 2022 karena kecelakaan.

Ketika berada di Saumlaki dan Olilit, kami mengunjungi keluarga dari Pater Agustinus Fasak (4) (IDR). Gusti sekarang sedang belajar bahasa Inggris di Chicago. Ketika kami berada di rumah, adik perempuannya, Evi Fasak, langsung membuat video call dengan Gusti. Dan kami menyalami dan bercerita dengan Gusti bahwa kami ada di rumahnya; mengunjungi ibunya, dan anggota keluarganya yang lain.

Dari situ, kami berpindah ke rumah Frater Bernardus Rangkoly (alm.) (5). Frater Rangkoly meninggal di Surabaya dan dikuburkan di Pekuburan Kembang Kuning, Surabaya. Seorang saudaranya, Jemris Timi Rangkoly, adalah imam keuskupan Amboina. Ayah dan ibu Frater Rangkoly hadir di Komunitas Olilit dalam acara malam perpisahan pada 14 Oktober, sebelum saya kembali ke Ambon pada keesokan harinya.

Berikutnya adalah keluarga  Pater Risko Batbual (PNG) (6). Ayah dan ibu Risko sudah meninggal. Rumah mereka di Saumlaki kosong, hanya dijaga oleh Violata Batbual, keponakan perempuannya. Di rumah itu foto Risko mengenakan kasula tergantung di dinding; ada meja altar misa di kamar depan rumah.

Menyusul adalah keluarga  Pater Antontius Sarto Mitakda (alm.) (7). Sarto Mitakda adalah anggota SVD Provinsi Jawa. Ia meninggal karena covid. Karena kesulitan mengurus dan mendapatkan tempat pemakaman pada masa wabah covid, Sarto Mitakda dikuburkan di Pemakaman San Diego Hills.

Menyusul adalah Keluarga Pater Boby, nama lengkapnya adalah Yakobus Ongriwalu (Brasil Selatan) (8). Kami sudah sampaikan bahwa waktu kami terbatas; hanya mampir dan bersalaman. Tak usah siapkan apa-apa. Kendati demikian, tetap saja saudarinya Ibu Yanti Ongriwalu menyiapkan makan siang. “Ini sudah jam dua belas. Jam makan siang. Pastor-pastor makan apa adanya lalu mengunjungi keluarga yang lain,” kata Ibu Yanti. Kami juga membuat video call dengan Boby.

Terakhir, adalah keluraga Pater Yulius Kuway (IDE) (9). Kunjungan kami menjadi kesempatan reuni keluarga Pater Yulius. Semua anggota keluarga datang dan berkumpul di “Rumah Tua” rumah orang tua dari Pater Yulius. Syukur bahwa Sr. Rosalina Kuway DSY, saudari dari Pater Yulius, juga lagi ada di rumah; dengannya reuni menjadi lebih lengkap.

Kami makan siang lagi di rumah Pater Yulius. Ketika berpamitan pulang, saudari dari Pater Yulius, Ibu Sensi Kuway, yang sedang sakit mengalungkan sarung Tanimbar kepada saya. “Pastor doakan saya selalu,” katanya.

***


Foto bersama
Keluarga Pater Yakobus Ongriwalu
Saumlaki, 14 Oktober 2025

Hal yang menggembirakan ialah bahwa konfrater kita yang bekerja di Masohi, Olilit, dan Saumlaki mengenal keluarga-keluarga dari samasaudara kita. Mereka mempunyai kontak yang tetap dengan keluarga-keluarga tersebut. Sesekali mereka mengunjungi keluarga-keluarga dari samasaudara kita.

Tentu saja, apa yang sudah mereka lakukan adalah hal yang sangat baik yang hendaknya dengan setia di lanjutkan.

Karena mengenal mereka semua dan menyimpan nomor-nomor kontak mereka, maka dalam kunjungan ke keluarga-keluarga misionaris tersebut, Pater Andre Koa menjadi penghubung dan penjaga waktu; biar kami tak terlalu lama berada di suatu rumah. Pater Candra Kasiwali dan Frater Ito Kapitan menjadi penunjuk jalan dan teman seperjalanan.

Untuk memudahkan kunjungan-kunjugan ke keluarga-keluarga samasaudara tersebut, Pater Pius Lawe menjadi driver kami yang baik dan setia. Bukan hanya di Olilit dan Saumlaki, Pius adalah driver yang baik selama saya berada di Ambon dan mengelilingi Pulau Seram. Sebagai Superior Distrik, Pius menjadi driver visitasi; ia mengatur jadwal visitasi dengan baik dan menemani saya dalam perjalanan mengunjungi semua samasaudara. Karenanya, visitasi berjalan lancar. Apresiasi dan ucapan terima kasih harus disampaikan kepada Pater Pius Lawe.***


Foto bersama 
Keluarga Pater Yulius Kuway SVD
Olilit, 14 Oktober 2025

Post-script....................................

Setelah catatan ini ‘diposting’ di grup WhatsApp kita, Pater Suhendra Yustisianto, memberikan catatan tambahan berikut ini:

Luar biasa sekali Pater, mengunjungi rumah keluarga para konfrater. Saya ingat baik sekali pengalaman persaudaraan yang erat bersama keluarga para konfrater kita.

Saudari dari almarhum Pastor Sarto Mitakda, mama Melda dan mama Dika, selalu datang ke rumah hunian sementara SVD di Olilit dulu setiap bulannya pada peringatan tanggal kematian Pater Sarto; mereka membawa bekal untuk makan-minum bersama, sayangnya beliau sakit saat ini.

Juga bapa guru Rangkoli, ayah dari almarhum Frater Rangkoli SVD yang selalu setia datang setiap ada doa dan misa mingguan di rumah SVD meskipun selalu naik ojek dan pulang  kami hantar.  Satu cara mereka menghadirkan ingatan tentang anak/saudara mereka yang dipersembahkan untuk SVD dan telah tiada.

Juga mama janda Fasak, ibu dari Pater Gusti yang selalu setia. Ada seorang mama kecil dari Pastor Risco Batbual yang selalu setia datang ke Rumah SVD, tetapi sekarang sudah sakit dan hanya di kursi roda di rumahnya di Saumlaki. Juga keluarga Pater Boby Ongirwalu yang selalu setia.

Dan yang paling banyak membantu dalam susah maupun senang, selalu ada bersama, jadi tempat berbagi ialah keluarga Pater Yulius Kuway. Apa saja yang ada di rumah mereka dapat kita ambil dan pakai untuk kebutuhan rumah SVD.

Mama Sensy Kuway, pribadi yang lemah secara fisik tetapi pandai membuat kue dan tidak pernah lupa SVD untuk setiap kue hasil buatan tangannya. Pemberian yang sederhana tetapi penuh arti sebagai dukungan yang berarti untuk SVD. Mama Refi Kuway, donatur minyak tanah untuk rumah SVD yang selalu murah hati untuk memberi.

Salam untuk semua orang-orang baik di Tanimbar.*** 




Popular posts from this blog