Foto bersama guru-guru Sekolah Misi, 
Olilit Timur, 13 Oktober 2025

Catatan Visitasi (8):
Pater Eman Embu SVD
Sekolah Misi

Awal yang sulit 


Sabtu, 26 Juli 2025, dalam misa Pembukaan Tahun Sekolah Baru di SMA Katolik Syuradikara, saya menyapa dan menyampaikan selamat datang kepada 438 siswa baru. Malah jumlah siswa bisa lebih dari itu jika ruang belajar masih tersedia.

Jumlah siswa di Sekolah Misi di Olilit tahun ini adalah 58 orang. Malah sebelumnya hanya 30an orang. Sangat kecil. Seperti bumi dengan langit jika dibandikan dengan jumlah siswa di Sekolah Misi di Ende.

Apakah pada tahun 1953 ketika SMA Syuradikara didirikan, jumlah siswanya langsung ribuan? Tidak, pasti tidak! Syuradikara bertahun-tahun membangun reputasinya. Kini sekolah itu mendapat banyak kepercayaan yang ditandai dengan banyaknya jumlah siswa.

Sekolah di Olilit Timur baru dirintis. Sudah pasti, untuk suatu sekolah misi yang masih baru banyak hal yang belum pasti. Dana kurang, fasilitas minim, personalia terbatas.

Tapi untuk misi, kita tidak boleh hanya menjadi orang-orang membayangkan kesulitan atau menjadi penutur keterbatasan. Orang-orang yang takut mengambil risiko; menjadi tukang produksi keluhan.

Tanggal 12-15 Oktober saya berada bersama dengan saudara-saudara kita Pater Andre Koa, Serafim Edor, Fritz Tali Talan, Candra Kasiwali dan Frater Ito Kapitan. Mereka berada di tempat misi ini bukan karena kemauan mereka sendiri; mereka adalah misionaris-misionaris yang diutus oleh Kongregasi kita.

Sejak tahun lalu Pater Serafim Edor menjadi kepala sekolah. “Saya tiba di sini tanggal 14 April tahun lalu. Enam bulan tinggal di rumah umat. Sebelum datang ke sini saya sempat magang di SMA Bhaktyarsa. Waktu saya tiba di sini saya kaget dengan keadaan sekolah ini. Idealisme saya sangat tinggi, ternyata semuanya terbatas,” kata Serafim.

Pada 14 Agustus - 10 September 2022 telah diadakan Visitasi Jenderal di Provinsi Ende. Setelah mengunjungi wilayah Papua, Pater Visitator, Xavier Thirukudumbam mengunjungi Distrik Amboina. Pater Xavier sekarang menjadi wakil Superior Jenderal (2024-2030). Tentang sekolah di Olilit, Saumlaki, dalam protokol visitasi ditulis,  "Inisiatif pendidikan kita di Saumlaki menawarkan masa depan yang menjanjikan asalkan beberapa masalah yang menyelubungi sekolah ini mesti diselesaikan dengan cepat."

Menoleh ke masa lalu

Sebagai referensi – kilas balik – tentang misionaris seperti apa yang dikirim untuk membuka misi baru, apa pentingnya pendidikan untuk misi, dan konsekuensinya dapat dilihat dalam perutusan Pater Petrus Noyen ke Kepulauan Sunda Kecil pada tahun 1913.

Ketika SVD baru berusia 38 tahun, Superior Jenderal SVD, Pater Nikolaus Blum, mengutus Pater Petrus Noyen ke wilayah misi Kepulauan Sunda Kecil. Sebelumnya, selama 15 tahun dia bekerja di Tiongkok. Dari Tiongkok, Pater Noyen ditarik ke Belanda untuk menjadi Rektor Seminari SVD di Uden.

Menarik bahwa, untuk misi baru di Kepulauan Sunda Kecil, Superior Jenderal Nikolaus Blum tidak mengutus imam yang baru ditahbiskan atau bruder yang baru berkaul kekal, tetapi seorang misionaris berpengalaman, seorang rektor seminari.

“Orang tidak mau mengambil risiko dan tidak bersedia berbuat sesuatu. Saya merasa sayang bahwa tidak banyak pemuda Katolik yang dididik untuk bekerja pada instansi-instansi pemerintahan,” kata Noyen tentang sentralitas dan pentingnya pendidikan.

Pada masa itu, Pater Noyen, Prefek Apostolik Kepulauan Sunda Kecil, dan para misionaris tidak hanya berpikir tentang pendidikan guru, tetapi pendidikan yang baik bagi pegawai pemerintahan. Sekolah-sekolah misi sudah mendapat perhatian dari misionaris perintis ke Kepulau Sunda Kecil.

Tahun 1916, Sekolah Standaard dibuka di Ndona. Dan kemudian banyak sekolah rakyat, sekolah misi, dibuka di wilayah misi  Kepulauan Sunda Kecil. Bukan hanya itu, dulu Misi membuka Kweekschool atau sekolah Guru Bawah dan Sekolah Guru Atas (SGB dan SGA).

Kepada Superior Jenderal, Pater Noyen menulis: “Pater Superior Jenderal yang saya kasihi, saya tidak bisa melepaskan pikiran ini. Saya minta dengan perasaan yang berat dalam hati sebab saya tahu bahwa Pater mempunyai tenaga-tenaga yang terbatas. Bagaimanapun, saya mesti memasukkan permohonan resmi ini. Saya mohon agar selekas-lekasnya dikirim sekurang-kurangnya dua imam yang memiliki ijazah guru untuk menghindarkan Misi kita mengalami kerugian yang besar.”

Bagi Pater Noyen, fondasi pertama yang patut ditegakkan bukanlah bangunan gereja atau tempat tinggal, melainkan ruang-ruang pendidikan. Sekolah-sekolah misi, termasuk seminari-seminari, bukan semata tempat transfer ilmu, melainkan medan formasi diri —di sanalah manusia diproses, nilai-nilai iman ditanamkan, dan karakter dibentuk.

Nyala Api Optimisme

Sekolah di Olilit mulanya adalah milik keluarga Kuway yang kemudian dialihkan kepada SVD. Dalam protokol Visitasi Provinsi pada tahun 2022, Provinsial Lukas Jua menjelaskan dua alasan mengapa SVD menerima pengalihan tersebut.

“Pertama, SVD belum mempunyai aset tetap di keuskupan Amboina, sehingga pengalihan tanah dan sekolah itu merupakan kesempatan Kongregasi memiliki aset tetap, yang memungkinkan kita mengembangkan karya misi kita di sana. Ini perlu untuk distrik baru ketika dibentuk dan untuk regio Papua Maluku di masa yang akan datang. Alasan kedua, kita mempunyai banyak konfrater dari wilayah ini dan kehadiran SVD di sana merupakan peluang untuk mendapat panggilan baru dari sana, karena tradisi Katolik di wilayah ini kuat seperti di Flores,” tulisnya.

Pater Serafim tahu bahwa ada banyak kesulitan dalam menjalankan kerasulan sekolah di sana. Tapi Pater Serafim dan konfrater-konfrater kita sana mempunyai keyakinan dan harapan. Dan ini adalah hal yang sangat dasariah dan penting. Tanpa harapan, hidup kehilangan daya cipta, gairah, dan arah.

“Saya punya keyakinan bahwa kalau sekolah ini dibangun untuk kepentingan SVD maka pasti ia berkembang. Dan puji Tuhan bahwa sekolah berkembang setidaknya dalam segi fisik. Antusiasme guru-guru dan masyarakat semakin baik. Jumlah murid bertambah. Sekolah kita makin dikenal oleh masyarakat,” ujar Serafim dengan nada yakin.

“Yang urgen sekarang adalah penyelesaian pembangunan lantai dua bangunan sekolah dan pembangunan asrama. Kami berusaha untuk menyelesaikannya. Target kami pada akhir tahun ini pembangunan lantai dua sudah beres. Mudah-mudahan tahun depan kita sudah mempunyai asrama permanen,” lanjut Serafim.

Penyelesaian pembangunan lantai dua sekolah sedang dikerjakan. Samasaudara mencarikan donasi untuk itu. Sebelum asrama permanen didirikan, Andre, Suhendra Yustisianto, dan Serafim mengambil inisiatif untuk memulai dengan asrama sementara. Kini ada 18 siswa putri dan 7 siswa putra tinggal di asrama. Dan asrama memberi warna baru untuk sekolah kita. Jam 05.15 konfrater kita bersama anak-anak asrama memulai aktivitas harian dengan doa pagi lalu misa. Pada awal jam sekolah mereka membaca perikop Kitab Suci mengikuti Kalender Liturgi.

Sejumlah umat yang saya temui mengapresiasi kehadiran konfrater-konfrater kita; ada warna baru dalam pastoral yang dijalankan. Pater Andre, Serafim, Suhendra Yustisianto, Candra, dan Fridz melihat cahaya harapan di ujung terowongan. Mereka pasti tahu bahwa dimanapun kita berada, kita adalah misionaris pembawa terang dan menjadi bagian dari terang Sabda Allah.

Tahun 2021, Pater Andreas Koa diutus oleh Serikat ke Olilit, Kepulauan Tanimbar. Ia adalah perintis dan fundator misi kita di sana. “Kita mengingat Pater Johannes Bouma sebagai pendiri Seminari Ledalero, Pater Josef Boumans pendiri Seminari Tinggi Ritapiret, Serikat akan mengingat Andre sebagai fundator misi SVD Kepulauan Tanimbar,” kata saya memberi kredit untuk Andre. Pater Andre hanya tersenyum kecil, lalu tertawa lega.***


Popular posts from this blog