Awal yang sulit
|
|
Sabtu, 26 Juli 2025, dalam misa Pembukaan Tahun
Sekolah Baru di SMA Katolik Syuradikara, saya menyapa dan menyampaikan selamat
datang kepada 438 siswa baru. Malah jumlah siswa bisa lebih dari itu jika ruang
belajar masih tersedia.
Jumlah siswa di Sekolah Misi di Olilit tahun ini
adalah 58 orang. Malah sebelumnya hanya 30an orang. Sangat kecil. Seperti bumi
dengan langit jika dibandikan dengan jumlah siswa di Sekolah Misi di Ende.
Apakah pada tahun 1953 ketika SMA Syuradikara
didirikan, jumlah siswanya langsung ribuan? Tidak, pasti tidak! Syuradikara
bertahun-tahun membangun reputasinya. Kini sekolah itu mendapat banyak
kepercayaan yang ditandai dengan banyaknya jumlah siswa.
Sekolah di Olilit Timur baru dirintis. Sudah pasti, untuk suatu sekolah
misi yang masih baru banyak hal yang belum pasti. Dana kurang, fasilitas minim,
personalia terbatas.
Tapi untuk misi, kita tidak boleh hanya menjadi orang-orang membayangkan
kesulitan atau menjadi penutur keterbatasan. Orang-orang yang takut mengambil
risiko; menjadi tukang produksi keluhan.
Tanggal 12-15 Oktober saya berada bersama dengan saudara-saudara kita Pater
Andre Koa, Serafim Edor, Fritz Tali Talan, Candra Kasiwali dan Frater Ito
Kapitan. Mereka berada di tempat misi ini bukan karena kemauan mereka sendiri; mereka
adalah misionaris-misionaris yang diutus oleh Kongregasi kita.
Sejak tahun lalu Pater Serafim Edor menjadi kepala sekolah. “Saya tiba di
sini tanggal 14 April tahun lalu. Enam bulan tinggal di rumah umat. Sebelum
datang ke sini saya sempat magang di SMA Bhaktyarsa. Waktu saya tiba di sini
saya kaget dengan keadaan sekolah ini. Idealisme saya sangat tinggi, ternyata
semuanya terbatas,” kata Serafim.
Pada 14 Agustus - 10 September 2022 telah diadakan Visitasi Jenderal di Provinsi Ende. Setelah mengunjungi wilayah Papua, Pater Visitator, Xavier Thirukudumbam mengunjungi Distrik Amboina. Pater Xavier sekarang menjadi wakil Superior Jenderal (2024-2030). Tentang sekolah di Olilit, Saumlaki, dalam protokol visitasi ditulis, "Inisiatif pendidikan kita di Saumlaki menawarkan masa depan yang menjanjikan asalkan beberapa masalah yang menyelubungi sekolah ini mesti diselesaikan dengan cepat."
Menoleh ke masa lalu
Sebagai referensi – kilas balik – tentang misionaris seperti apa yang
dikirim untuk membuka misi baru, apa pentingnya pendidikan untuk misi, dan
konsekuensinya dapat dilihat dalam perutusan Pater Petrus Noyen ke Kepulauan
Sunda Kecil pada tahun 1913.
Ketika SVD baru berusia 38 tahun, Superior
Jenderal SVD, Pater Nikolaus Blum, mengutus Pater Petrus Noyen ke wilayah misi
Kepulauan Sunda Kecil. Sebelumnya, selama 15 tahun dia bekerja di Tiongkok.
Dari Tiongkok, Pater Noyen ditarik ke Belanda untuk menjadi Rektor Seminari SVD
di Uden.
Menarik bahwa, untuk misi baru di Kepulauan Sunda
Kecil, Superior Jenderal Nikolaus Blum tidak mengutus imam yang baru
ditahbiskan atau bruder yang baru berkaul kekal, tetapi seorang misionaris
berpengalaman, seorang rektor seminari.
“Orang tidak mau mengambil risiko dan tidak bersedia berbuat sesuatu. Saya
merasa sayang bahwa tidak banyak pemuda Katolik yang dididik untuk bekerja pada
instansi-instansi pemerintahan,” kata Noyen tentang sentralitas dan pentingnya
pendidikan.
Pada masa itu, Pater Noyen, Prefek Apostolik Kepulauan Sunda Kecil, dan
para misionaris tidak hanya berpikir tentang pendidikan guru, tetapi pendidikan
yang baik bagi pegawai pemerintahan. Sekolah-sekolah misi sudah mendapat
perhatian dari misionaris perintis ke Kepulau Sunda Kecil.
Tahun 1916, Sekolah Standaard dibuka di Ndona. Dan kemudian banyak
sekolah rakyat, sekolah misi, dibuka di wilayah misi Kepulauan Sunda Kecil. Bukan hanya itu, dulu
Misi membuka Kweekschool atau sekolah Guru Bawah dan Sekolah Guru Atas
(SGB dan SGA).
Kepada Superior Jenderal, Pater Noyen menulis: “Pater Superior Jenderal
yang saya kasihi, saya tidak bisa melepaskan pikiran ini. Saya minta dengan
perasaan yang berat dalam hati sebab saya tahu bahwa Pater mempunyai
tenaga-tenaga yang terbatas. Bagaimanapun, saya mesti memasukkan permohonan
resmi ini. Saya mohon agar selekas-lekasnya dikirim sekurang-kurangnya dua imam
yang memiliki ijazah guru untuk menghindarkan Misi kita mengalami kerugian yang
besar.”
Bagi Pater Noyen, fondasi pertama yang patut ditegakkan bukanlah bangunan gereja atau tempat tinggal, melainkan ruang-ruang pendidikan. Sekolah-sekolah misi, termasuk seminari-seminari, bukan semata tempat transfer ilmu, melainkan medan formasi diri —di sanalah manusia diproses, nilai-nilai iman ditanamkan, dan karakter dibentuk.
Nyala Api Optimisme
Sekolah di Olilit mulanya adalah milik keluarga Kuway yang kemudian
dialihkan kepada SVD. Dalam protokol Visitasi Provinsi pada tahun 2022,
Provinsial Lukas Jua menjelaskan dua alasan mengapa SVD menerima pengalihan
tersebut.
“Pertama, SVD belum mempunyai aset tetap di keuskupan Amboina, sehingga pengalihan
tanah dan sekolah itu merupakan kesempatan Kongregasi memiliki aset tetap, yang
memungkinkan kita mengembangkan karya misi kita di sana. Ini perlu untuk
distrik baru ketika dibentuk dan untuk regio Papua Maluku di masa yang akan
datang. Alasan kedua, kita mempunyai banyak konfrater dari wilayah ini dan
kehadiran SVD di sana merupakan peluang untuk mendapat panggilan baru dari
sana, karena tradisi Katolik di wilayah ini kuat seperti di Flores,” tulisnya.
Pater Serafim tahu bahwa ada banyak kesulitan dalam menjalankan kerasulan
sekolah di sana. Tapi Pater Serafim dan konfrater-konfrater kita sana mempunyai
keyakinan dan harapan. Dan ini adalah hal yang sangat dasariah dan penting.
Tanpa harapan, hidup kehilangan daya cipta, gairah, dan arah.
“Saya punya keyakinan bahwa kalau sekolah ini dibangun untuk kepentingan
SVD maka pasti ia berkembang. Dan puji Tuhan bahwa sekolah berkembang
setidaknya dalam segi fisik. Antusiasme guru-guru dan masyarakat semakin baik.
Jumlah murid bertambah. Sekolah kita makin dikenal oleh masyarakat,” ujar
Serafim dengan nada yakin.
“Yang urgen sekarang adalah penyelesaian pembangunan lantai dua bangunan
sekolah dan pembangunan asrama. Kami berusaha untuk menyelesaikannya. Target kami
pada akhir tahun ini pembangunan lantai dua sudah beres. Mudah-mudahan tahun
depan kita sudah mempunyai asrama permanen,” lanjut Serafim.
Penyelesaian pembangunan lantai dua sekolah sedang dikerjakan. Samasaudara
mencarikan donasi untuk itu. Sebelum asrama permanen didirikan, Andre, Suhendra
Yustisianto, dan Serafim mengambil inisiatif untuk memulai dengan asrama
sementara. Kini ada 18 siswa putri dan 7 siswa putra tinggal di asrama. Dan
asrama memberi warna baru untuk sekolah kita. Jam 05.15 konfrater kita bersama
anak-anak asrama memulai aktivitas harian dengan doa pagi lalu misa. Pada awal
jam sekolah mereka membaca perikop Kitab Suci mengikuti Kalender Liturgi.
Sejumlah umat yang saya temui mengapresiasi kehadiran konfrater-konfrater
kita; ada warna baru dalam pastoral yang dijalankan. Pater Andre, Serafim, Suhendra
Yustisianto, Candra, dan Fridz melihat cahaya harapan di ujung terowongan.
Mereka pasti tahu bahwa dimanapun kita berada, kita adalah misionaris pembawa
terang dan menjadi bagian dari terang Sabda Allah.
Tahun 2021, Pater Andreas Koa diutus oleh Serikat ke Olilit, Kepulauan
Tanimbar. Ia adalah perintis dan fundator misi kita di sana. “Kita mengingat
Pater Johannes Bouma sebagai pendiri Seminari Ledalero, Pater Josef Boumans
pendiri Seminari Tinggi Ritapiret, Serikat akan mengingat Andre sebagai fundator misi SVD Kepulauan Tanimbar,”
kata saya memberi kredit untuk Andre. Pater Andre hanya tersenyum kecil, lalu
tertawa lega.***
