Foto: Fajar Pagi di Laut Banda

Pater Eman Embu SVD
Catatan Visitasi (1):
Dari Bula ke Karlomin

Bula, Rabu 1 Oktober 2025. Pater Pius Lawe dan saya meninggalkan Bula, ibukota Kabupaten Seram Bagian Timur, pada jam 09.30 malam; tiba Pelabuhan Geser pada pukul 03,00 subuh, keesokan harinya, di Pelabuhan Gorom pada 08.15 pagi, dan di Pelabuhan Tanahbaru di Pulau Kesui pada 14.30. Lalu, kami meneruskan perjalanan dengan speed-boat ke kampung Karlomin, pusat paroki, tiba pada 16.10. Total 17 jam lebih.

Selama berada di Masohi, pusat paroki dan di stasi-stasi,  banyak umat mengisahkan lagi ihwal kemalangan sebagai komunitas minoritas. Tidak ada kejahatan atau kesalahan yang mereka lakukan, tapi kerusuhan Ambon 1999-2000 menjadikan mereka sebagai bagian dari prahara antaragama: Tanah dan rumah dirampas, gereja dan kapela dibakar. Sejumlah komunitas iman hilang, dan kini tinggal cerita. Orang-orang harus lari untuk menyelamatkan diri.

Segregasi sosial masih jelas teramati dan dirasakan sampai sekarang ini. Tapi, itu mulai menjadi bagian dari masa lalu. Umat minoritas sudah mulai lagi membangun komunitas-komunitas iman. Syak-wasangka masih kuat, tapi pasti bahwa ikatan-ikatan sosial dirajut kembali dan melalui dialog yang jujur batas-batas segregasi sosial mulai dilintasi.

Para samasaudara kita menjadi bagian dari ziarah bersama membangun kembali komunitas-komunitas iman dan merajut ikatan sosial yang dulu dengan sengaja diputuskan. Dari mereka ada yang diutus untuk bekerja di pulau-pulau kecil di hamparan laut Banda. Sendirian di pulau terpencil, tak ada samasaudara lain. “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah serigala,” kata-kata Yesus (Mat 10: 16) ini nyata, sangat nyata untuk mereka.  

Bersama para rasul awam, para samasaudara kita memastikan bahwa sumbu iman yang berkedip-kedip tidak padam. Mereka tahu, sangat tahu metafora Alkitab bahwa benih harus mati agar menghasilkan banyak buah. Sanguis martyrum, semen ecclesiae est, kata St. Tertulianus.***

Popular posts from this blog