yang melayani warga di Perairan Laut Banda
|
|
Dari Wahai ke Teor
Tanggal 30 September 2025, dalam
perjalanan dengan mobil dari Masohi ke
Bula, saya mampir di Pastoran Wahai; makan
siang bersama Pastor Eric Mara; pastor paroki, imam Projo Keuskupan Amboina.
“Ini adalah kesempatan langka.
Tidak baik jika provinsial SVD hanya berjalan lewat, tak mampir dan makan siang
di sini. Pastor Konrad Pati SVD yang memulai paroki ini,” kata Eric, seorang pastor
muda yang ramah menerima tamu.
Selain menyalami Eric dan makan
siang bersama, ini adalah kesempatan khusus
untuk mengingat jejak misionaris Sabda Allah, Pater Konrad Pati. Dulu Wahai
adalah satu stasi misi. Mulai tahun 2015, Konrad yang ditugaskan di Paroki
Masohi langsung melayani dan tinggal di Wahai. Konrad merintis dan
mengembangkan Wahai menjadi paroki pada tahun 2019. Ia melayani umat di tiga
stasi misi, yaitu, Oping, Wahai, dan Kobisonta.
“Kami mencari dana dan membangun
Gereja dan pastoran di Wahai serta melengkapinya dengan bangku-bangku. Saya
sudah mengusahakan tanah hibah di samping kanan gedung Gereja. Tinggal
dikembangkan lebih lanjut,” kata Konrad, dalam suatu percakapan kami di beranda
Pastoran Kerker, Pulau Teor, Senin 6 Oktober.
Wahai terletak di Pulau Seram
bagian utara. Dan Pulau Seram adalah pulau terluas di Indonesia urutan ke-8.
Seram Utara mempunyai dataran yang sangat luas, termasuk di dalamnya adalah
hutan lindung Taman Nasional Manusela. Di Seram utara terdapat perkebunan
kelapa sawit dan perkebunan kakao. Selain itu, di wilayah ini ada pengembangan
budidaya dan pengolahan udang dalam skala besar.
Tahun 2023, Konrad pindah dari
Wahai ke Pulau Teor dan memulai Kuasi Paroki Teor, yang berpusat di Kerker.
Paroki ini mempunyai dua stasi misi yaitu stasi Rumalusi dan Kerker.
Teor ditetapkan menjadi suatu
kecamatan, bagian dari kabupaten SBT (Seram Bagian Timur) pada 2011. Pulau Teor
adalah bagian paling timur dari Kabupaten SBT. Kalau di Paroki Wahai kebanyakan
umat adalah para pendatang, maka di Teor kebanyakan umat Katolik adalah
orang-orang asli Teor.
Di Teor, misi – dalam pemahaman
yang khas SVD sebagai dialog profetik – adalah dialog dengan masyarakat dan
budaya asli dan dengan orang-orang dari keyakinan iman lain. Samasaudara kita, Konrad
Pati, melakukannya pertama-tama melalui dialog kehadiran.
Di Teor, bersama umatnya, Konrad
sedang melanjutkan pembangunan gedung Gereja Paroki yang sudah dimulai pada
masa Frans Funan menjadi pastor paroki Karlomin. Ketika gedung Gereja itu mulai
dibangun, stasi-stasi misi di Pulau Teor adalah bagian dari Paroki Karlomin.
Sangat meneguhkan ketika dalam
Visitasi Provinsi ini saya menyaksikan bahwa Konrad dekat dengan umat dan
dicintai oleh mereka.
Umat di Kerker secara bergilir
menghantar makanan untuknya. “Pastor lebih banyak makan ubi-ubian, daun marungge,
dan ikan; kurang makan nasi,” kata ibu Marta Fofid yang mengantar makanan ke pastoran.
Sesudah ditahbiskan menjadi imam
pada tahun 1994, Konrad menjadi misionaris di Panama dan Kolombia. Tahun 2014, ia kembali ke Provinsi Ende. Dan
tahun 2015 beliau diutus ke Paroki Masohi.
Pengalaman misioner sebelumnya
telah menempa Konrad menjadi tangguh. Untuk misi kita di Distrik Amboina, ia
adalah seorang misionaris perintis dalam pengembangan paroki.
“Teor boleh dikatakan jauh dan terisolir, tapi bekerja di sini cocok dengan semangat misi SVD,” katanya yakin.
Rujukan kata-kata Konrad ini adalah Konstitusi Serikat No. 102.1, "Dalam memilih kegiatan-kegiatan misioner kita, hendaknya diberikan prioritas untuk situasi di mana terdapat kebutuhan yang mendesak secara khusus, di mana tak ada orang-orang lain yang bersedia untuk tugas evangelisasi, dan di mana penduduk setempat menunjukkan keterbukaan yang besar bagi Sabda Allah."***
