Para pandai besi, kelompok usaha, 
Stasi Kerker, Kuasi Paroki Teor, 
Keuskupan Amboina

Catatan Visitasi (4):
Pater Eman Embu SVD

Kreativitas Paroki Misioner

Kerker, Kuasi Paroki Teor, Rabu 8 Oktober 2025. Pagi ini kami mengunjungi kelompok pandai besi. Letak tempat kerja mereka tak jauh; tidak sampai lima menit jalan kaki dari gereja stasi. Di tempat usaha tersebut sekelompok umat membuat parang, tombak, pisau, pacul, dll.

Menempa parang adalah kerajinan warga Teor yang diwariskan turun-temurun. Sejak bulan Mei lalu kelompok pandai besi tadi bekerja dalam kelompok di bawah supervisi Konrad Pati dan DPP Paroki. Konrad mengakses dana APP (Aksi Puasa Pembangunan) KWI untuk menjalankan proyek pastoral sosio-ekonomis ini.

Kepada Panitia APP, Konrad menulis dalam proposalnya bahwa proyek tersebut mempunyai tiga tujuan. Satu, menyiapkan alat tani yang berkualitas.  Dua, melestarikan kerajinan tempa parang Teor. Tiga, menjadikan usaha tempa parang sebagai alternatif penghasilan.

Di stasi Kerker, sekarang ini, usaha tempa parang ini terhubung dengan pengumpulan dana pembangunan gereja. Panitia pembanungan menargetkan bahwa pada akhir tahun 2025, sudah dihasilkan paling kurang 1,000 bilah parang.

“Kami sudah kirim 200 bilah parang ke Papua dan 50 bilah ke Dobo. Jumlah parang yang kami hasilkan masih terbatas. Karena itu, saya belum berani buat promosi kepada para pastor di paroki-paroki di Keuskupan Amboina,” kata Konrad Pati.

Parang ukuran pendek harganya Rp 150,000. Sedangkan parang dengan ukuran yang lebih panjang harganya Rp 200,000. Tentu, harganya lebih mahal, jika dibandingkan dengan harga parang buatan pengrajin dareah lain. Tapi, sudah lama parang Teor mempunyai nama yang baik karena mutunya yang tinggi.

“Banyak orang di wilayah kami sudah mengenal parang Teor. Kalau mau beli parang yang bermutu baik, beli parang Teor. Kalau mau beli yang murah dan mutunya rendah, maka bisa beli parang buatan orang lain,” kata Albert Fofid, wakil ketua pembangunan gereja; Albert adalah seorang babinsa.

Bahan dasar untuk pembuatan parang ini adalah per (pegas) oto atau tabung oksigen bekas yang didapatkan di bengkel-bengkel atau di tempat pengumpulan besi bekas di Ambon atau di Tual. Kisaran harga besi bekas tersebut adalah antara Rp 10,000–15,000 per/kg. Hingga kini, besi bekas yang dibutuhkan tersebut mencukupi.

Para pandai besi dibebaskan dari kerja bergilir membangun gereja. Dua hari dalam seminggu, pada Selasa dan Jumat, mereka menempa besi bekas menjadi parang atau pisau. Hasil penjualannya diserahkan kepada bendahara panitia pembangunan gereja.

Samasaudara kita Konrad Pati dan DPP tidak terjebak dalam kebiasaan lama yaitu hanya rajin memungut iuran atau dana ini dan itu dari umat. Mereka menemukan cara kreatif untuk membantu umat. Ini patut digarisbawahi, lantaran dengan memproduksi macam-macam alasan pembenar, di banyak paroki pengumpulan iuran dan dana-dana dari umat dijadikan syarat untuk pelayanan sakramen.

Generalat SVD pernah menerbitkan dua booklet terkait pengembangan paroki-paroki yang kita layani. Profile of SVD Parish (2016). Becoming an SVD Missionary Parish (2020). Upaya-upaya pelayanan yang kreatif dalam bidang sosio-ekonomis dibicarakan juga dalam booklet itu.

Gayung bersambut. Panitia APP (Aksi Puasa Pembangunan) nasional tiap tahun menyiapkan dana pengembangan sosial ekonomi umat untuk proyek-proyek mikro yang dijalankan oleh kelompok-kelompok usaha. Paroki-paroki melalui komisi PSE Keuskupan didorong untuk mengakses dana tersebut; tentu sesudah memenuhi sejumlah persyaratan dan kemudian dengan jujur melaporkan pelaksanaannya.

Di Stasi Kerker, Kuasi Paroki Teor, dalam kerja sama dengan berbagai pihak, pastoral sosial-ekonomi yang dibicarakan dalam booklet dari Jenderalat SVD dan yang dianjurkan oleh para uskup dalam APP nasional sedang diimplementasikan sesuai dengan konteks misi yang ada. Tentu, cara-cara pastoral-kreatif untuk melayani umat – dalam banyak bidang – selalu bisa ditemukan.***

Popular posts from this blog