Sukacita bersama umat 
di halaman  Gereja St. Yohanes Penginjil, 
Masohi, 25 September 2025

Catatan Visitasi (6):
Pater Eman Embu SVD
Animasi Misi 
dan Rasa Identitas

Dua tahun lalu, dalam Musyawarah Provinsi, ketika kita merancang perayaan Syukur 150 Tahun kelahiran SVD, diputuskan bahwa di Provinsi SVD Ende sedapat mungkin perayaan-perayan syukur tersebut dibuat di paroki-paroki atau di distrik-distrik dan komunitas-komunitas.

Hal yang hendak dipastikan melalui ketetapan tersebut adalah bahwa banyak rekan kerja, sahabat, penderma misi kita ambil bagian dalam perayaan tersebut. Singkatnya, perayaan syukur ini hendaknya menjadi suatu perayaan syukur bersama umat.

Di Disrtrik SVD Amboina perayaan syukur tersebut malah tidak hanya dirayakan di pusat paroki tetapi juga dirayakan di stasi-stasi dan disatukan dengan visitasi Provinsial ke stasi-stasi misi yang kita layani tersebut.

Karena itu, perayaan satu setengah abad kelahiran SVD dan kesempatan visitasi ini digunakan, antara lain, untuk animasi misi bagi umat; mengapresiasi dan menunjukkan kepercayaan pada apa yang telah umat lakukan; mengunjungi dan mendoakan para rasul awam yang dulu membentuk komunitas-komunitas iman yang kini berkembang menjadi stasi-stasi misi; meningkatkan tanggung jawab misioner mereka; dan meneguhkan identitas mereka sebagai komunitas-komunitas misioner; bahwa mereka ada untuk misi; paroki dan stasi-stasi misi yang kita layani ada untuk misi, bukan pertama-tama untuk dirinya sendiri.  

Semuanya itu dilakukan karena keyakinan, bahwa di mana saja kita ada dan bekerja, haruslah diingat bahwa kita adalah misionaris Sabda Allah. Kita berusaha menyadarkan Gereja sejagat akan tanggung jawab misionernya (Kons. 102.2). Setiap orang Kristen adalah misionaris dan mereka semua “selalu menjadi murid-murid yang diutus (EG 120).

***

Terkait visitasi dan perayaan Syukur satu setengah abad kelahiran SVD, ketika kami tiba dari Ambon pada 25 September siang di Masohi, jalan Abdullah Soulissa, jalan utama di depan Gereja Paroki sudah ditutup; tentu setelah mendapatkan izinan. Ada baliho-baliho penyambutan provinsial yang sudah dipasang. Ada acara pengalungan dan sapaan selamat datang. Banyak umat berkumpul di sisi kiri-kanan jalan. Para penari yang sudah lama menunggu mulai menari.  Grup drum-band dari Seminari St. Andreas, Masohi, menghantar kami ke pastoran. Suatu paket acara penyambutan yang disiapkan dengan sangat baik.

Bukan hanya di pusat paroki. Di tiap stasi misi yang kami kunjungi dalam visitasi ini selalu ada acara penyambutan. Malah di stasi Kerker, di Pulau Teor, acara penyambutan diadakan pada jam 07.30 malam setelah kami tiba dengan speedboat dari stasi misi Rumahlusi. Sebetulnya, kami bisa tiba lebih awal, tapi kami harus menunggu pasang naik agar speedboat bisa mendarat di pasir.

Apa pentingnya penyambutan-penyambutan seperti ini? Kiranya kita dapat mencatat dua jawaban.

Satu, masyarakat kita mempunyai kebiasaan menerima dan menghormati tamu (bisa baca ‘yang asing’). Ini adalah suatu budaya hospitalitas sosial. Dalam konteks masyarakat dengan sejarah hostilitas dan konflik sosial yang fatal – kita versus mereka – hospitalitas sosial menjadi sangat relevan dan sangat dibutuhkan.  

“Hospitalitas adalah bentuk paling nyata dari kasih mengalahkan hostilitas,” kata Henri Nouwen.

Dua, apa yang dilakukan tersebut terkait dengan sense of indentity (rasa identitas atau jatidiri). Ini adalah hal yang sangat krusial  khususnya bagi komunitas-komunitas iman minoritas. Visitasi atau kunjungan-kunjungan keagamaan dan acara-acara apapun yang dibuat sebagai ekspresi dari sense of identity mempunyai kontribusi untuk menguatkan kohesi sosial sebagai suatu komunitas iman yang inklusif; yang merangkum, bukannya yang menolak, apalagi yang mempromosikan agresi kepada yang lain.

Untuk komunitas-komunitas minoritas yang sering mengalami diskriminasi dan marginaliasi sosial, secara internal, menghidupi dan memperkokoh sense of identity adalah kesempatan khusus untuk meyatukan anggota-anggota sebagai suatu Gereja. Dari segi psikologi, ia menciptakan rasa aman dalam relasi dengan yang lain.

Secara eksternal, apa yang dilakukan di stasi-stasi misi tersebut di atas adalah suatu deklarasi – di tempat publik – bahwa mereka ada. Tentu bukan ada yang mengacam dan membinasakan, tapi ada yang memberi hidup.

Demikian pun halnya dengan pembangunan gereja-gereja yang sedang dijalankan di stasi-stasi misi di Masohi, Karlomin, dan Teor. Pembangunan gereja-gereja setelah perusakan dan pembakaran pada peristiwa kerusuhan antaragama pada tahun 1999/2000 lalu bukanlah sebatas menyiapkan ruang tempat umat berkumpul untuk berdoa atau merayakan Ekaristi, tapi bangunan Gereja dengan salib yang terpancang kokoh di candi-candinya – tanda kemenangan kasih –  adalah ungkapan sense of identity tentang ruang identitas kolektif dan deklarasi bahwa ada komunitas iman yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang bangkit dari alam maut.***










Popular posts from this blog