Dua tahun lalu, dalam
Musyawarah Provinsi, ketika kita merancang perayaan Syukur 150 Tahun kelahiran
SVD, diputuskan bahwa di Provinsi SVD Ende sedapat mungkin perayaan-perayan syukur
tersebut dibuat di paroki-paroki atau di distrik-distrik dan
komunitas-komunitas.
Hal yang hendak
dipastikan melalui ketetapan tersebut adalah bahwa banyak rekan kerja, sahabat,
penderma misi kita ambil bagian dalam perayaan tersebut. Singkatnya, perayaan
syukur ini hendaknya menjadi suatu perayaan syukur bersama umat.
Di Disrtrik SVD Amboina
perayaan syukur tersebut malah tidak hanya dirayakan di pusat paroki tetapi
juga dirayakan di stasi-stasi dan disatukan dengan visitasi Provinsial ke
stasi-stasi misi yang kita layani tersebut.
Karena itu, perayaan satu
setengah abad kelahiran SVD dan kesempatan visitasi ini digunakan, antara lain,
untuk animasi misi bagi umat; mengapresiasi dan menunjukkan kepercayaan pada apa
yang telah umat lakukan; mengunjungi dan mendoakan para rasul awam yang dulu
membentuk komunitas-komunitas iman yang kini berkembang menjadi stasi-stasi
misi; meningkatkan tanggung jawab misioner mereka; dan meneguhkan identitas
mereka sebagai komunitas-komunitas misioner; bahwa mereka ada untuk misi;
paroki dan stasi-stasi misi yang kita layani ada untuk misi, bukan pertama-tama
untuk dirinya sendiri.
Semuanya itu dilakukan
karena keyakinan, bahwa di mana saja kita ada dan bekerja, haruslah diingat
bahwa kita adalah misionaris Sabda Allah. Kita berusaha menyadarkan Gereja
sejagat akan tanggung jawab misionernya (Kons. 102.2). Setiap orang Kristen
adalah misionaris dan mereka semua “selalu menjadi murid-murid yang diutus (EG
120).
***
Terkait visitasi dan
perayaan Syukur satu setengah abad kelahiran SVD, ketika kami tiba dari Ambon pada
25 September siang di Masohi, jalan Abdullah Soulissa, jalan utama di depan
Gereja Paroki sudah ditutup; tentu setelah mendapatkan izinan. Ada
baliho-baliho penyambutan provinsial yang sudah dipasang. Ada acara pengalungan
dan sapaan selamat datang. Banyak umat berkumpul di sisi kiri-kanan jalan. Para
penari yang sudah lama menunggu mulai menari. Grup drum-band dari Seminari St.
Andreas, Masohi, menghantar kami ke pastoran. Suatu paket acara penyambutan
yang disiapkan dengan sangat baik.
Bukan hanya di pusat
paroki. Di tiap stasi misi yang kami kunjungi dalam visitasi ini selalu ada
acara penyambutan. Malah di stasi Kerker, di Pulau Teor, acara penyambutan
diadakan pada jam 07.30 malam setelah kami tiba dengan speedboat dari
stasi misi Rumahlusi. Sebetulnya, kami bisa tiba lebih awal, tapi kami harus
menunggu pasang naik agar speedboat bisa mendarat di pasir.
Apa pentingnya penyambutan-penyambutan
seperti ini? Kiranya kita dapat mencatat dua jawaban.
Satu, masyarakat kita
mempunyai kebiasaan menerima dan menghormati tamu (bisa baca ‘yang asing’). Ini
adalah suatu budaya hospitalitas sosial. Dalam konteks masyarakat dengan
sejarah hostilitas dan konflik sosial yang fatal – kita versus mereka – hospitalitas
sosial menjadi sangat relevan dan sangat dibutuhkan.
“Hospitalitas adalah
bentuk paling nyata dari kasih mengalahkan hostilitas,” kata Henri Nouwen.
Dua, apa yang dilakukan
tersebut terkait dengan sense of indentity (rasa identitas atau jatidiri).
Ini adalah hal yang sangat krusial khususnya bagi komunitas-komunitas iman
minoritas. Visitasi atau kunjungan-kunjungan keagamaan dan acara-acara apapun yang
dibuat sebagai ekspresi dari sense of identity mempunyai kontribusi
untuk menguatkan kohesi sosial sebagai suatu komunitas iman yang inklusif; yang
merangkum, bukannya yang menolak, apalagi yang mempromosikan agresi kepada yang
lain.
Untuk komunitas-komunitas
minoritas yang sering mengalami diskriminasi dan marginaliasi sosial, secara
internal, menghidupi dan memperkokoh sense of identity adalah kesempatan
khusus untuk meyatukan anggota-anggota sebagai suatu Gereja. Dari segi
psikologi, ia menciptakan rasa aman dalam relasi dengan yang lain.
Secara eksternal, apa
yang dilakukan di stasi-stasi misi tersebut di atas adalah suatu deklarasi – di
tempat publik – bahwa mereka ada. Tentu bukan ada yang mengacam dan
membinasakan, tapi ada yang memberi hidup.
Demikian pun halnya
dengan pembangunan gereja-gereja yang sedang dijalankan di stasi-stasi misi di
Masohi, Karlomin, dan Teor. Pembangunan gereja-gereja setelah perusakan dan pembakaran
pada peristiwa kerusuhan antaragama pada tahun 1999/2000 lalu bukanlah sebatas
menyiapkan ruang tempat umat berkumpul untuk berdoa atau merayakan Ekaristi,
tapi bangunan Gereja dengan salib yang terpancang kokoh di candi-candinya –
tanda kemenangan kasih – adalah ungkapan
sense of identity tentang ruang identitas kolektif dan deklarasi bahwa ada
komunitas iman yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang bangkit dari alam
maut.***
