Pater Thadeusz Gruca,
adalah konfrater tertua di Provinsi IDE sekarang ini. Thadeusz lahir tahun 1933
di Klepaczka, Polandia. Artinya, kini usianya sudah 92 tahun lewat. Belum
lama ini, Pater Thadeusz berobat di Surabaya. Kaki-kakinya tidak sekuat dulu
lagi. Sekarang dia menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Kendati
demikian, selama berobat di Surabaya, beliau mengatur waktu untuk pergi
mengunjungi makam Pater Józef Glinka (2018), Pater Stanislaw Pikor (2019), dan
Suster Hugoline Elisabeth Deselaers SSpS ([2022] ekonom di RKZ
Surabaya dulu). Ia menyalami dan mendoakan mereka.
“Tanggal 18 November nanti
saya akan ke Soa, mengunjungi makam Pater Mommersteeg. Kami di Polandia memiliki
kebiasaan untuk mengunjungi makam-makam pada bulan November, bulan khusus untuk
orang-orang yang sudah meninggal. Sejak di Seminari dulu, kami sudah terbiasa
mengunjungi dan berdoa di makam orang-orang yang kami kenal,” kata Pater
Thadeusz via telepon-WhatsApp pada Jumat, 7 November lalu. Pater Thadeusz
berada di Roe, sudah pulang dari Surabaya.
Pater Adrianus Anthonius
Franciscus Mommersteeg meninggal pada 17 Mei 2002. Sedianya, Pater Mommersteeg
akan dimakamkan di Pekuburan Rumah Retret Kemah Tabor, Mataloko. Kuburnya sudah
digali. Upacara penguburan sudah disiapkan. Tapi, karena jasa-jasanya, umat
Paroki Soa meminta dan setengah memaksa agar beliau dikuburkan di Soa.
***
Saya yakin -- dan
mudah-mudahan kita sepakat -- bahwa praktik yang diceritakan oleh Pater
Thadeusz Gruca adalah hal yang sangat baik; mendoakan jiwa-jiwa orang-orang
yang kita kenal dan cintai, mendoakan para misionaris yang telah mendahului
kita.
Waktu Bruder Valens Halim
meninggal pada 15 Oktober 2025 lalu, saya sedang mengadakan Visitasi Provinsi
di Distrik SVD Amboina. Tentu, saya tak bisa ambil bagian dalam misa
pemakamannya. Karena itu, selama mengikuti Kapitel SSpS Provinsi Flores Bagian
Timur, yang berlangsung di Kewapante pada 9-15 November, saya menyempatkan diri
datang ke Pekuburan Misi di Ledalero pada 14 November untuk mendoakan Valens
dan semua samasaudara yang dimakamkan di situ. Saya juga meminta doa-doa dari
mereka.
Di wilayah Maumere, tidak semua konfrater kita dimakamkan di Pekuburan Misi di Ledalero. Karena menjadi bagian dari Seminari Tinggi St. Petrus, Ritapiret, ada tiga konfrater kita yang dikuburkan di Seminari Ritapiret: Bruder Michael <Domitius> Ratz (1976), Pater Leo van Vliet (1985), dan Pater Jozef Boumans (2013).
Lalu, ada Mgr. Kherubim Gerulfus Pareira (2024) yang dikuburkan di kompleks keuskupan lama di Maumere dan Pater Philipus Panda Koten (2021) yang meninggal karena wabah Covid dan dikuburkan di Pekuburan Covid, di Taji Manu, di pinggiran barat kota Maumere.
***
Nama-nama dan keterangan singkat tentang konfrater yang meninggal, mulai dari Frater Novis Lappe Aloisius (1884/GEA) didokumentasikan dengan teliti dalam Index Defunctorum Societatis Verbi Divini. Serikat kita mempunyai kebiasaan yang sangat baik dalam mengenangkan dan mendoakan para samasaudara yang meninggal.
“Para pendahulu kita telah menyelesaikan ziarah mereka dalam pelayanan Firman Allah, kita baru saja memulai misi yang sama. Sebagai penerus, kita mengambil bagian dalam buah dari pekerjaan mereka, mendengarkan pengalaman dan warisan mereka yang telah disampaikan: “Warisan Masa Lalu adalah benih yang menghasilkan panen masa depan.” Kita semua berbagi dalam proyek yang sama dari Allah, mengikuti jejak Pendiri kita,” tulis Fr. Andrzej Miotk, SVD, sejarahwan SVD, dalam Arnoldus Nota, November 2013.
Membiasakan diri untuk mendoakan dan mengunjungi makam-makam samasaudara adalah hal yang sangat mulia. Praktik baik ini, seperti pengalaman Pater Thadeusz Gruca, hendaknya terus ditanamkan di rumah-rumah formasi kita, entah di BSK Ende ataupun di Ledalero.
Khusus untuk Rumah Formasi Ledalero, sangatlah baik jika selain praktik yang sudah dijalankan selama ini, yaitu, merayakan misa di Pekuburan pada 2 November, pada Hari Pengenangan Arwah, kiranya ada kelompok-kelompok kecil samasaudara yang mengunjungi dan mendoakan para konfrater yang dimakamkan di Ritapiret, di Maumere, dan di Pekuburan Covid, Taji Manu, Maumere. Tentu saja, praktik baik seperti ini menjadi bagian utuh dari formasi.***
Provinsial SVD Indonesia-Ende (IDE)
Pater Leo van Vliet dan Ritapiret
Pada tahun 1969, Pater Leo kembali ke Ritapiret, mengemban tugas sebagai ekonom atau prokurator. Sebagai ekonom, ia mengatur agar kas Seminari selalu terisi, bukan hanya untuk kebutuhan rutin sebuah komunitas calon imam projo yang jumlah anggotanya semakin bertambah dari tahun ke tahun, tetapi juga untuk pengadaan sarana dan prasarana yang juga ikut bertambah, termasuk pembangunan kompleks Seminari Tinggi yang luas dan megah, serta biaya perawatannya.
Untuk itu, hampir setiap hari Kamis, yakni hari libur kuliah, ia turun ke Maumere menumpang truk Seminari Ritapiret, dan sebelum Pkl. 12.00 ia sudah kembali ke Ritapiret dengan truk yang sama penuh muatan aneka kebutuhan Seminari.
Untuk kepentingan ekonomi Ritapiret, ia menjalin hubungan dengan para penderma di Eropa, termasuk sanak keluarga dan sahabat kenalannya. Setiap tahun, ia mengirim ratusan surat untuk itu, entah berupa ketikan ataupun stensilan.
Tiap akhir tahun, ia menulis satu surat umum kepada semua relasi dan penderma, biasanya berupa stensilan, berisi semacam laporan keadaan dan perkembangan Ritapiret disertai ucapan terima kasih untuk peran serta dan dukungan mereka bagi Ritapiret sebagai tempat pendidikan calon imam pribumi.
Tugas prokurator dijalankannya secara penuh hingga tahun 1982. Di kemudian hari, ketika tugas itu dialihkan kepada imam pribumi, ia tetap mendampingi para penggantinya dengan gagasan dan petunjuk-petunjuk praktis.
Ia juga membantu mereka dalam hal korespondensi dalam Bahasa Belanda dan Jerman, serta memelihara hubungan dengan para penderma dan lembaga donor di Eropa.
dan Eduard Jebarus (Ed.)
Indahnya Kaki Mereka
Ende 2006, hal. 215.