Satu Abad Paroki Raja
Pada pesta St. Yosef, 19 Maret lalu, Paroki Raja di
Kevikepan Mbay, KAE merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Ada jejak misionaris
Sabda Allah, Pater Josef Ettel dan para penggantinya, di awal ziarah satu abad
itu dan pada tahun-tahun sesudahnya.
Dalam Misa Syukur satu
abad Paroki Raja pada 19 Maret lalu, Uskup Paul Budi Kleden mengutip apa yang
ditulis dalam Surat Kabar Bintang Timur, Edisi November 1925: “Pada
kaki Gunung Raja, sekitar 750 meter di atas permukaan laut, akan dibuka satu
rumah pastoran dan Gereja baru. Maka Gereja dan segala kampung mendapat
perlindungan St. Yosef. Haraplah St. Yosef mendidik bangsa ini, seperti dia memelihara
anaknya juga”.
Mgr. Petrus Noyen SVD -
fundator misi Serikat kita di Kepulauan Sunda Kecil yang juga adalah Superior
Regionalis pertama Misi Kepulauan Sunda Kecil - sangat yakin akan pengalaman
dan ketangguhan misioner dari Pater Ettel. “Kau ke Todabelu, karena harus didirikan
stasi dan engkau mendapat kehormatan untuk menjadi perintis Ngada-Nage untuk
memulaikan karya perutusan di sana,” (P. J. Bot, dalam Berita Regio,
No. 12, Djuni 1965). Dan memang demikian adanya, Pater Josef Ettel SVD adalah
misionaris perintis kita di wilayah Ngada-Nage.
Apa yang dikatakan oleh
Mgr. Noyen tidaklah keliru. Sebelum datang ke Indonesia, Pater Ettel adalah
misionaris di Togo. Pada lembar berita kematiannya di Arsip Provinsi
IDE ditulis: Sudah meninggal dunia pada tanggal 13 April 1971, Pater
Josef Ettel. Lahir di Riemertaheide-Djerman 14.8.1887. Masuk Seminari 5 Oktober
1901. Menjadi imam pada 29 September 1912. Berangkat ke Misi Togo-Afrika
10.8.1913. Diinternir pada waktu Perang Dunia I: 1914-1917. Tiba di Ende Flores
12 Febr. 1920. Pastor pertama Ngada-Nagekeo di Todabelu 15 Mai 1920. Beberapa
kali P. Ettel (menjadi) Rektor/Deken wilajah Ngada. Sedjak 1928, menetap di
Radja. 1938-1940 bertjuti ke Eropa. 1940-1947 diinternir: Dehra Dun-India. Tiba
di Flores: 7 Djan. 1948, di Radja. Bercuti karena kesehatan terganggu
1961-1962. Berangkat karena sakit pada April 1965.
Kita berbagi syukur dengan
umat Paroki Raja secara khusus, dan umat Ngada-Nagekeo umunya. Untuk kita,
perayaan syukur seabad Paroki Raja adalah momen khusus untuk mensyukuri karya
agung Allah melalui diri para misionaris Sabda Allah di Kepulauan Sunda Kecil.
Seratus tahun lalu,
situasi serba sulit. Kutipan berikut bisa menjadi ilustrasi
yang baik. “Supaja dapat dibajangkan sedikit betapa penuh kesukaran hidupnya
seorang misionaris waktu itu, baiklah ditjeritakan peristiwa yg singkat ini.
Pada suatu hari P. Ettel merasa giginya sakit dg. Hebat2. Perlu naik kuda, 3
hari ke Ende, jaitu pusat misi, tapi T. Bruder, ahli gigi, sudah berangkat ke
Maumere, djadi perlu perjalanan dg berkuda itu dteruskannja sampai habis
tambahan lagi 4 hari baru ditibanja di Maumere. Di situ baru dapat pertolongan;
sesudah berkuda 7 hari sampai ketempat itu! Lalu pulang setjara sama sedjauh
itu, ia sendiri dg bermalamlah dipinggir djalan, dl pondok2 orang sederhana, jg
rela menjamui seorang misisonaris,” (Manuskrip, Arsip Provinsi IDE).
Dituntun oleh Sang Penabur
Benih Sabda, para misionaris Serikat kita telah menaburkan benih Sabda Allah di
wilayah kita. Benih Sabda Allah, benih misioner itu telah ditabur di tanah yang
baik dan bertumbuh, berakar kuat, dan menghasilkan buah
berlimpah—bisa 30, 60, hingga 100 kali lipat.
Apa pun tantangan dan
kesulitannya, para misionaris Sabda Allah pendahulu kita menghadapinya dengan
iman yang kuat dan dengan semangat misioner kokoh. Mereka adalah penabur benih,
dan mereka adalah benih yang harus mati agar menghasilkan banyak buah.
Perayaan syukur seabad
Paroki St. Yosef Raja tidaklah sekadar menjadi kesempatan mengingat, tapi
kesempatan untuk terus menyalakan api semangat misi. Hendaknya kita mewarisi
dan meneruskan iman yang kuat dan semangat misi yang kokoh. Semoga kisah
misioner para misionaris perintis kita, membentuk kisah dan identitas kita.
Kisah tentang kesiapan dan ketangguhan untuk selalu pergi ke mana pun TUHAN
mengutus kita. Kisah tentang benih yang harus mati agar menghasilkan banyak
buah. ***
Provinsial SVD Indonesia-Ende (IDE)
Catatan: