Konfrater kita, Pater Dr. Otto Gusti, pada Sabtu, 18 April 2026 nanti, dikukuhkan menjadi profesor Ilmu Filsafat Politik. Atas nama semua samasaudara anggota Provinsi SVD-IDE, saya menyampaikan apresiasi dan profisiat kepada Pater Profesor Otto, IFTK Ledalero, Yayasan Persekolahan St. Paulus, dan Komunitas Formasi Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero.

***
Saya menempatkan pencapaian akademis Pater Otto sebagai suatu bagian utuh dari pengabdiannya untuk misi melalui Serikat Sabda Allah.

“Provinsial SVD Ende kemarin memberikan ucapan selamat begini: Profisiat untuk pencapaian akademis menjadi profesor.  Semoga pencapaian ini menjadi bagian utuh dari pengabdian untuk misi melalui Serikat Sabda Allah. Saya suka dengan kalimat kedua di atas. Saya memang merasa bahwa panggilan saya sebagai dosen dengan tugas utama mengajar, melakukan riset, dan pengabdian kepada masyarakat adalah karya misi Allah yang dipercayakan kepada saya,” demikian tulis Pater Otto pada laman Facebook-nya, Kamis, 5 Februari lalu.

Mengajar, meneliti, mempublikasikan tulisan, dan pengabdian kepada masyarakat adalah pelayanan misioner intelektual sebagai salah satu bentuk konkret dari pewartaan Sabda Allah.

Medan misi Pater Otto adalah lembaga pendidikan tinggi dan ruang publik. Untuk kita, pelayanan misioner yang sejati – dalam bidang dan medan apa saja – mengalir dari doa dan pengalaman perjumpaan yang sangat pribadi dengan Sang Sabda.

Selama ini, kita mengenal Pater Otto dari tulisan-tulisannya, entah dalam buku, jurnal, ataupun dalam surat kabar lokal dan nasional. Ia juga aktif dalam pelbagai diskusi dan seminar.

Untuk kepentingan misi, harapan dan doa saya, pada hari pengukuhannya sebagai profesor, adalah agar dalam dunia yang terluka, Pater Otto tetap setia dan kreatif menjadi profesor yang meneliti dan menulis; profesor yang menjadi suara bagi mereka yang dibungkam oleh yang korup dan lalim.

***

Kita mengenal Pater Otto dalam banyak keterlibatan profetik, khususnya dalam pelbagai kerja-kerja advokasi bagi mereka yang dikalahkan, dipinggirkan, dan dimiskinkan. Ia menjadi misionaris Sabda Allah di ruang publik dan dunia pemikiran – ahli ilmu Filsafat Politik – yang menggugat ketidakadilan dan memperjuangkan pemenuhan hak-hak asasi manusia. Pilihan hidup seperti ini – praksis misi profetik dalam spiral refleksi-aksi – selalu berisiko.

Nubuat dan karya kenabian untuk keadilan – yang secara alkitabiah berarti membangun relasi yang benar dan  memberi hidup dengan yang lain – selalu menuntut sikap martiria; bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali.

St. Arnold Janssen, sungguh sadar akan hal yang baru disampaikan tadi. “Apabila engkau dipanggil untuk menderita demi keadilan, percayalah sepenuhnya kepada Allah, berdoalah, bekerjalah, dan tetaplah tenang serta bersukacita,” tulisnya kepada Henninghaus dan Freinademetz, St. Gabriel, 20–24 Juni 1902/92.737f.

Sebagai misionaris Sabda Allah dan religius, kita adalah murid dan nabi. Murid Yesus adalah orang yang berjalan di belakang Sang Sabda. Ada ikatan yang tetap; selalu berjalan di belakang dan mengikuti Sang Guru. Selamanya begitu, selamanya menjadi murid, selamanya tidak pernah menjadi guru. Kesatuan dengan-Nya adalah keniscayaan.

Nabi adalah penerus suara Allah dan misi-Nya. Nabi bukanlah pemilik suara dan pemilik misi itu sendiri. Karena itu, apa yang dinubuatkan oleh seorang nabi adalah Sabda Allah, bukan suara, dan bukan kepentingannya sendiri. Untuk itu, adanya pengalaman akan Allah dan Sabda-Nya –  pengalaman yang menyentuh inti diri, yang transformatif, yang mengubah cara hidup yang lama – adalah suatu kemestian untuk menjadi nabi.
***
Selain nubuat-nubuatnya yang jernih sebagai suara Allah Keadilan dan Allah Perdamaian, kekuatan seorang nabi adalah integritas hidupnya sendiri yang kokoh. Pada hakikatnya, integritas hidup tidak hanya mengatakan tentang apa yang dinubuatkan, tetapi tentang siapa yang menghidupi nubuat-nubuat itu.

Integritas mengatakan tentang kedua-duanya: apa dan siapa. Kesatuan, integrasi di antara keduanya. Kesatuan antara apa yang dinubuatkan dan siapa yang menghidupi nubuat itu menjadikan seseorang Injil yang hidup, bukan sebatas kata-kata yang ditulis di atas kertas.

Melalui macam-macam keterlibatan sosial – dengan suatu kesadaran penuh – seorang nabi membiarkan dirinya ditelanjangi dan diadili.

St. Arnold Janssen tahu tentang hal ini. Karena itu, kepada Anzer, Koblenz, dia menulis, “Begitu Anda tampil lebih banyak dalam kehidupan publik, Anda akan diawasi dan diperhatikan dengan saksama,” – Surat 10 Juni dan Steyl, 2 Juli 1898 / 29.742–745.

Akhirnya, sekali lagi, atas nama semua samasaudara anggota Provinsi Indonesia Ende (IDE), saya menyampaikan apresiasi dan profisiat kepada Pater Profesor Otto, IFTK Ledalero, Yayasan Persekolahan St. Paulus, dan Komunitas Formasi Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero.

Pater Eman Embu SVD

Provinsial IDE
Noemeto, Kamis 16 April 2026

Popular posts from this blog