Waktu gempa besar pada
tanggal 15 Agustus lalu terjadi, saya ada di Seminari Ledalero.
Di kamar makan Unit
Paulus, waktu makan siang, ada macam-macam cerita tentang usaha menyelamatkan
diri. Juga ada cerita dari mereka yang terkurung dalam kamar.
Tapi, ada juga saling mengolok,
sejenis trauma healing dengan cara menertawakan diri sendiri. Ini adalah
coping mechanism yang sehat.
Ada yang mengolok bahwa
orang-orang yang lari keluar dari kamar dan berusaha menyelamatkan diri adalah
orang-orang yang kurang beriman.
Tapi mereka yang lari
menyelamatkan diri itu tak menyerah. Mereka mengatakan bahwa orang-orang yang
tetap berada dalam kamar, tidak melarikan diri, adalah orang-orang yang
mempunyai iman yang mati.
Mengapa? Iman yang mati
adalah iman tanpa perbuatan. Lari keluar dari kamar dan menyelamatkan diri
adalah tanda iman yang hidup, yaitu iman dengan perbuatan. Perbuatannya adalah lari
untuk menyelamatkan diri.
Saya kira, baik yang tetap
berada dalam kamar, maupun yang lari menyelamatkan diri adalah orang-orang yang
beriman; iman dengan perbuatan.
Yang satu, perbuatannya
adalah lari menyelamatkan diri. Yang lain yang ada dalam kamar, perbuatannya
adalah bersembunyi di kolong meja atau melindungi kepala dengan kursi.
***
Cerita kecil, saling olok, tentang
hubungan antara iman dan perbuatan di atas adalah ilustrasi untuk menghantar
kita kepada hal yang serius yang dikatakan dalam Injil.
Iman, kata kerja Ibrani
alkitabiah, he’emin, berarti percaya atau mengandalkan Allah.
Dalam konteks penderitaan
dan bencana ini, hal yang jauh lebih penting, urgen, dan injili adalah bicara
tentang iman dan perbuatan kasih, iman dan tindakan keadilan, dan iman dan aksi
solidaritas.
Tanpa kehadiran, tanpa keterlibatan, tanpa solidaritas, tanpa misi, itu bukanlah iman, bukanlah tarekat
religius yang didasarkan pada nilai-nilai Injil.
Kita semua terdampak oleh
bencana gempa bumi ini. Itu adalah kepastian. Tapi, pengalaman itu tidak
menjadikan kita komunitas religius atau gereja yang pasif, tidak berbuat
apa-apa.
Sebaliknya, kendati terdampak
bencana, kita – orang-orang yang mempunyai iman dengan perbuatan – mewajibkan
diri kita sendiri untuk melakukan sesuatu.
Per hari ini, Senin, 24
Agustus 2026, menurut BNPB, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi
Flores mencapai 100 orang. Sebanyak 1.603 penyintas mengalami luka-luka. Ada
180.327 orang masih mengungsi di tenda-tenda.
***
Kita bersyukur bahwa
ketika terjadi bencana gempa bumi ini, samasaudara dan JPIC kita aktif
memberikan tanggap bencana.
Kegiatan tanggap bencana yang
dijiwai compassion (cum + pati yang berarti ikut menderita) Injili,
sudah tertanam kuat dalam diri banyak samasaudara.
Kompleks Ziarah kerahiman milik
Serikat kita di Lengkosambi menjadi tempat aman untuk pengungsian dari ratusan
keluarga.
Koordinasi antara pimpinan
Provinsi dengan tim JPIC-IDE sudah dibuat sejak hari pertama gempa itu terjadi.
Pertemuan khusus via Zoom
dibuat pada 16 Agustus, dan hasilnya dikirim kepada Pater Superior Jenderal dan
Dewannya di Roma.
Kita memastikan bahwa baik di Ledalero maupun di Biara St. Konradus, sebagai bagian dari Formasi Dasar, para formandi kita terlibat dalam kegiatan-kegiatan tanggap bencana.
Ada 15 frater bergabung dalam Tim Pertama JPIC yang mendistribusikan bantuan ke Pulau Palue.
Sangat menggembirakan
menyaksikan frater-frater kita ikut dalam Tim JPIC-IDE, berkontak secara langsung dengan mereka yang sangat terdampak oleh bencana.
Paroki-paroki yang kita layani juga
terlibat. Kita menyebut sebagai contoh – tak ada maksud untuk mengabaikan yang
lain – orang-orang muda di Paroki St. Yosef Onekore, Ende, terlibat aktif
mendistribusikan bahan makanan dan kebutuhan pokok untuk mereka yang sangat
terdampak.
Mereka hadir bersama orang-orang
yang sangat terdampak di Lengkosambi, di Maukaro, di Nuabosi, di Penggajawa,
dan di kampung Belu Gedhe, Ngadha.
Mengingat keterbatasan
resources yang dimiliki, kita fokus pada tanggap darurat.
***
Kita ulangi kata-kata
Rasul Yakobus, “Iman tanpa perbuatan adalah mati,” Yakobus 2: 26. Ya,
iman tanpa solidaritas adalah mati. Iman tanpa compassion adalah mati.
Di komunitas St. Yosef
Ende, dalam pertemuan komunitas, kami membicarakan tanggapan komunitas. Seperti
komunitas-komunitas lain di provinsi kita, ada donasi dari komunitas.
Sekecil apa pun, lakukan sesuatu untuk mereka yang sangat terdampak oleh bencana.
Karena itu, hal kecil
yang kami lakukan adalah menyebarkan flyer permintaan donasi dari
JPIC-IDE kepada anggota keluarga, kenalan, dan para sahabat.
***
Mari kita mendoakan semua yang berpulang dan terdampak bencana gempa ini.
Tak lupa, kita mendoakan para
relawan kemanusiaan, orang-orang muda dari paroki-paroki yang kita layani, Tim
JPIC kita yang bekerja untuk membantu mereka yang sangat menderita.
Semoga Tim JPIC kita
bekerja dengan sebaik-baiknya. Ada pendataan yang cermat dan tepat sasaran.
Distribusi bantuan yang adil dan tepat waktu. Publikasi yang baik. Pelaporan
yang benar dan teliti.
Kita bekerja tanggap
bencana, tetapi kita memastikan bahwa pelaporan dan pertanggungjawabannya tidak
boleh menjadi suatu bencana***
©Eman Embu, SVD
Provinsial SVD Indonesia-Ende (IDE)