Kepenuhan Hidup 
dalam Tuhan
In memoriam 
Nicholas Joseph Strawn, SVD (2)

Hari ini, 4 Agustus 2026, kita kehilangan seorang misionaris ulung, Pater Nicholas Strawn. Ia meninggal pada usia 91 tahun. Di bawah subjudul, Kepenuhan Hidup dalam Tuhan, dalam Konstitusi SVD No. 415, ditulis sebagai berikut:

Pada saat kematian, kita melaksanakan penyerahan diri kita yang terakhir kepada Tuhan. Kita mati dalam persekutuan dengan Kristus, yang telah dimulai dengan pembaptisan, diteguhkan dengan profesi religius, ditumbuhkan dengan Perayaan Ekaristi, dan kini diselesaikan dalam kepenuhan akhir”.

Pada Selasa malam, 28 Januari 1908, Pater Josef Freinademetz menghembuskan napasnya yang terakhir di tanah misi Tiongkok. Seorang rekan misionarisnya, Pater Stenz, menulis kepada Pater Arnold Janssen sebagai berikut:  Josef tabah selama dia sakit. Dia tidak meninggal, tetapi menyerahkan diri kepada Allah. Tempatnya tidak dapat diisi oleh siapa pun.”

Dalam Arnoldus Nota, Februari 2008, Pater Tony Pernia, Superior Jenderal, menegaskan hal yang sama:

Namun, lebih dari akhir kehidupan, kematian Joseph Freinademetz sebenarnya adalah pemenuhan dari sebuah impian. Pada tahun 1886, tujuh tahun setelah kedatangannya di Cina, ia menulis kepada keluarganya di Val Baldia: ‘Saya mencintai Cina dan orang Cina, dan saya akan mati seribu kali demi mereka.’ Enam tahun kemudian, pada tahun 1892, ia menulis lagi: ‘Terkait dengan orang Cina yang saya cintai, saya tidak memiliki keinginan lain selain hidup dan mati di antara mereka.’ Jadi, pada malam 28 Januari 1908, kehidupan misionaris Joseph Freinademetz tidak benar-benar berakhir, melainkan terpenuhi.”

***

Saya hendak menggunakan gambaran Pater Stenz dan Pater Tony Pernia tadi untuk Pater Nicholas Strawn.

Pater 'Niko' tabah hati dalam penderitaannya, khususnya pada hari tuanya.

Dia tidak hanya mewartakan Injil; kesetiaan dan ketahanannya yang mengagumkan sebagai seorang misionaris telah menjadi Injil itu sendiri. Sabda telah menjadi daging. Sabda telah menjelma dalam dirinya.

Sebagai misionaris, ia terbilang dalam kelompok orang yang mendengar suara panggilan, yang mengalami diri mereka sebagai pengembara abadi di bumi ini, yang terus melakukan perjalanan, yang setia menuju Allah Yang Mahakasih.

Di ujung usianya, ia tidak mati, tetapi di tengah umat dan di tanah misi Lembata yang dicintainya, ia menyerahkan diri kepada Allah yang adalah asal dan tujuan hidupnya.

Pater Niko Strawn sangat mencintai tanah misi Lembata. Ia mencintai umatnya. Hari ini, Selasa, 4 Agustus 2026, impian dan cinta misionernya telah terpenuhi.  

Pada 11 September 1971, sesudah pulang dari liburan di Amerika, Pater Niko menulis dari Lerek kepada regional SVD, “Pater regional di Ende yang terhormat. Saya telah kembali ke Paroki Lerek dengan selamat. Selama saya tinggal di rumah, ibuku sangat senang. Pendek kata, saya sudah puas di Amerika. Tetapi [sebenarnya] saya lebih senang pulang ke Lerek”.

Sebagai seorang misionaris, tempatnya di hati puluhan ribu umat Lerek dan Boto tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Ia tidak mati, ia tetap hidup di relung hati dan ingatan umatnya.

© Eman Embu, SVD
Provinsial SVD Indonesia-Ende (IDE)

Postingan populer dari blog ini