Megasihi Umat, Dikasihi UmatIn Memoriam Nicholas Joseph Strawn, SVD (3)
Hari Kamis, 21 Desember 2023, saya menjenguk Pater 'Niko' di Rumah Sakit Carolus Boromeus Kupang. Saya bermaksud mengajaknya pulang ke Rumah Simeon di Ledalero, tempat para misionaris purna tugas dan mereka yang sakit dirawat.
Tapi, Pater Niko tak menyetujuinya. Dia mengatakan
bahwa Lembata adalah rumahnya. Dia mau berada di tengah-tengah umat yang
dikenal dan mengenalnya. Dia memilih untuk dirawat di Rumah Sakit Bukit Lewoleba.
Kita berterima kasih kepada direktur dan semua staf medis Rumah Sakit Bukit Lewoleba yang sangat setia dan penuh kasih dalam merawat Pater Niko pada tahun-tahun terakhir hari tuanya.
***
Cerita-cerita dan surat-suratnya menunjukkan
kedekatan dan cinta yang mendalam kepada umat dan tanah misi Lembata ke mana
dia diutus untuk mewartakan Injil; Kabar Gembira Keselamatan yang datang dari
Allah.
Dia secara tetap, berjalan kaki atau berkuda,
mengunjungi umat dari stasi ke stasi. Di sana ia membaca Kitab Suci dan
merayakan Ekaristi. Kadang ia menginap di rumah umat. Menyapa umat dengan bahasa Atadei. Makan
jagung titi, kacang tanah, dan minum tuak bersama umat. Banyak umat yang
dikenalnya dengan nama mereka masing-masing.
Kehadiran dan kebersamaan seperti ini membuatnya mengalami kegelisahan dan kerentanan umatnya. Pater Niko ambil bagian dalam penderitaan mereka.
Tak mengejutkan jika pada 2 Maret 1981, Niko menulis,
kepada provinsial, “Hasil tahun ini di Lerek sebenarnya baik. Memang hujan
cukup. Tetapi sayang karena angin ribut selama dua minggu pada permulaan
Januari. Akibatnya, banyak jagung rusak. Menurut orang-orang kampung, pasti
tahun ini ada kelaparan lagi. Untung ubi kayu dan pohon kelapa bisa tahan
angin. Apalagi, masih ada harapan bahwa kacang tanah bisa jadi. Jelas
orang-orang petani menghadapi terlalu banyak musuh.”
Ia secara tetap mengunjungi sekolah-sekolah di parokinya. Dekat dengan anak-anak dan menjadi sahabat anak-anak. Pater Niko membuat katekese dan promosi panggilan hidup religius untuk mereka. Hasilnya ialah bahwa panggilan hidup religius bertumbuh subur di paroki-parokinya.
Pater Niko adalah seorang pendoa. Ia mencintai
Ekaristi. Kuat dengan devosi-devosi. Tiap hari Minggu sore ada Adorasi Sakramen
Mahakudus di Gereja Paroki. Pengalaman akan Tuhan sendiri, perjumpaan pribadi
dengan Tuhan, memberi kekuatan dan harapan dalam hidup dan karyanya di tempat
terpencil dan berat.
Dengan itu, ia memelihara dan merawat hidup rohani
umatnya. Sama benarnya bahwa dengan perjumpaan tersebut, kegiatan-kegiatan
misioner tidak lagi sebatas kewajiban atau tugas, melainkan buah dari
pengalaman akan Allah sendiri.
Ia membantu umatnya yang miskin dan
menderita. Memberi obat sebisanya kepada mereka. Di Sekretariat Provinsi IDE ada
beberapa laporan tentang perhatiannya kepada orang miskin dan menderita.
Pada 20 November 1998, Pater Niko menulis sebagai
berikut kepada Provinsialnya, “Dua tahun lalu pada tanggal 26 Juni saya
telah menerima uang khusus untuk membantu orang-orang sakit yang tidak mampu.
Uang ini saya sudah pakai habis. Lalu laporan yang tertulis saya titipkan
bersama dengan surat ini. Tambah lagi, semua kwitansi saya juga kirim. Saya minta
sekali lagi, kalau ada uang untuk orang sakit. Di sini, di Lembata, hampir
setiap bulan ada orang sakit yang tidak mampu membayar ongkos di rumah sakit.”
Jelas, Pater Niko mengasihi umatnya. Dan
sebaliknya, juga benar bahwa umat sangat mengasihi dia. Di Lembata, ia telah
dibaptis oleh kesetiaan dan kasih umat istimewa yang membuatnya menjadi seorang
misionaris yang setia.
Pada 28 November 1991, di Boto, ketika mengunjungi
umat di suatu stasi, ia jatuh dari sepeda motor. Ada tulang di punggungnya yang
patah. “Setelah tidur nyenyak satu malam, saya harap semuanya jadi baik.
Tetapi waktu mau bangun, saya rasa belakang saya terlalu sakit. Untung ada
beberapa tukang urut yang dapat membantu saya. Tambah lagi, selama saya berada
di Boto, ada penjaga siang dan malam di rumah pastoran. Sungguh saya merasa
bahwa orang-orang mengasihi saya,” tulisnya.