Serah
terima tugas Provinsial dan Dewan SVD-IDE akan diadakan pada Selasa, 2 Juni
2026. Ketika melihat kembali pengalaman selama 6 tahun terakhir ini, tiga tahun
sebagai anggota dewan dan tiga tahun sebagai provinsial, saya mengalami dan
meyakini bahwa memimpin adalah pertama-tama membiarkan diri dipimpin oleh
Tuhan.
Dalam konteks misi, kepemimpinan tidak dimulai dari kehendak pribadi, ambisi, apalagi hasrat akan kekuasaan; juga tidak dimulai dengan visi, misi, dan rencana strategis, tetapi selalu dimulai dari pengalaman dipimpin oleh Tuhan. Semua yang lain adalah turunan dari pengalaman tersebut.
Untuk
itu, perlu satu sikap dasar kerohanian yang menjadi suatu conditio sine
qua non: keterbukaan yang terus-menerus kepada Tuhan. Ada telinga dan
hati yang siap mendengarkan.
Dalam
hal mendengarkan, kita bisa mengutip Dalai Lama, “Ketika Anda berbicara,
Anda hanya mengulangi apa yang sudah Anda ketahui. Tetapi jika Anda
mendengarkan, Anda mungkin belajar sesuatu yang baru.”
Konkretnya,
refleksi, keheningan batin, doa, dan misa menjadi kesempatan istimewa untuk
bertanya, mencari jawaban, dan mendengarkan Tuhan. Ada proses refleksi-aksi
yang kreatif dan berkelanjutan. Itu tak lain adalah kesempatan untuk memikirkan
dan memutuskan bersama Tuhan.
***
Pernah,
saya berbagi kesesakan dengan seorang sahabat tentang anggota-anggota yang
menghadapi kesulitan serius dalam hidup sebagai misionaris dan religius.
Apa
katanya? Tak ada penjelasan panjang lebar! Dengan penuh keyakinan, ia berkata singkat, “Mereka adalah saudaramu!” Agak lama, jawaban
singkat ini keluar-masuk dalam benak saya. “Mereka adalah saudaramu!”
Ini bertentangan dengan jawaban Kain kepada Tuhan dalam Kejadian 4: 9 tentang saudaranya sendiri, “Firman
TUHAN kepada Kain: ‘Di manakah Habel, adikmu itu?’’ Jawabnya: ‘Aku tidak tahu!
Apakah aku penjaga adikku?’”
Sangat
pasti bahwa Tuhan tidak bertanya tentang lokasi di mana Habel saudaranya itu berada.
Sejatinya, kepada Kain, Tuhan bertanya tentang tanggung jawab moral, spiritual, dan kasih
persaudaraan.
Konstitusi
SVD nomor 601 menegaskan bahwa tugas pemimpin Serikat adalah menganimasi
samasaudara agar hidup sesuai dengan panggilannya sebagai misionaris Sabda
Allah.
Inti jawaban Kain dalam Kejadian 4: 9 tadi, “Apakah aku penjaga adikku?” adalah pengingkaran terhadap tanggung jawab moral, spiritual, dan kasih persaudaraan.
Pengingkaran seperti ini bertentangan dengan intisari kepemimpinan misioner, khususnya dalam perkara relasi dengan samasaudara.
***
Kendati demikian, sikap dasar membiarkan diri pertama-tama dipimpin oleh Tuhan sendiri
melalui Roh-Nya adalah suatu keharusan. Ada satu proses disermen untuk
mencari jawaban dan memutuskan bersama Tuhan. Ada kerendahan hati dan kesediaan
untuk bekerja bersama Tuhan.
Kita ingat Injil Markus 16: 20, “Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu.”
Ya, Tuhan
ada, dan TUHAN turut bekerja. Itulah jaminan! Itulah kepastian! Itulah
iman!
***
Sebelum
menjadi wakil provinsial, Pater Frans Ceunfin adalah rektor Seminari Tinggi
St. Paulus Ledalero selama dua periode. Pengalamannya memimpin, kebijaksanaan, kedekatan personalnya dengan samasaudara, pengetahuannya yang luas dan mendalam mengenai rumah formasi Seminari
Tinggi Ledalero, sangat membantu tim pimpinan.
Kita menyapa dan mengucapkan selamat datang kepada tiga samasaudara anggota dewan provinsi, periode 2026/2029: Pater Petrus Dori, Bruder Kristianus Riberu, dan
Pater Sergius Ratu.
Pater
Petrus Dori pernah bekerja di Provinsi SVD Italia selama 8 tahun. Kemudian ia
melanjutkan studi dalam bidang pedagogi di Roma. Selanjutnya, ia menjadi
formator dan dosen IFTK Ledalero. Sekarang ia menjadi anggota Dewan Rumah
Seminari Tinggi Ledalero sekaligus menjadi Dekan Fakultas Tekonologi Kreatif IFTK
Ledalero.
Bruder
Kris Riberu sesudah mengikrarkan kaul kekal bekerja di Jepang selama 5 tahun.
Sesudahnya, ia kembali ke Ende, mengajar di SMA Katolik Syuradikara, kemudian
melanjutkan studi pascasarjana bidang pendidikan. Sekarang ia menjadi kepala
SMA Katolik Syuradikara.
Pater
Sergius Ratu mendapat penempatan pertama di Provinsi SVD China. Selama 12 tahun
ia bekerja di Taiwan. Sesudahnya, ia kembali ke Ende dan terlibat dalam
kerasulan parokial. Pada periode kepemimpinan 2023/2026, ia menerima tanggung
jawab sebagai Superior Distrik SVD Ende-Lio.
Pergantian
dan kehadiran konfrater, dengan semangat misioner lintas wilayah, dedikasi yang kuat, dan
semangat juang yang tinggi, selalu sehat dan baik bagi kepentingan Serikat.
****
Pada
hari yang sama, ketika saya mampir di Kantor Ekonom, sambil menjabat tangan
saya, Pater Salomon Hadia Palma berkata, “Proficiat, selamat memikul salib
kepemimpinan.” Saya suka apa yang dikatakannya.
Mengapa?
Karena salib adalah bagian dari kehidupan sehari-hari seorang misionaris.
Arnold Janssen menulis 464 surat ke Tiongkok. Ungkapan “In Cruce Salus”
(Keselamatan di Salib) disebutnya tidak hanya sekali. Kadang diperkuat dengan
“Per Crucem ad lucem” (Melalui salib menuju terang).
Kepada anggota Dewan Provinsi IDE 2026/2029, Pater Frans, Pater Pice Dori, Bruder Kris, dan
Pater Sergio, atas nama samasaudaramu anggota Provinsi SVD-IDE, saya menyampaikan terima kasih atas kesediaan dan keikhlasan memikul salib misi kepemimpinan.
Marilah kita memikul salib misi kepemimpinan dengan sukacita Injili yang
besar.
Ende,
30 Mei 2026
# Eman Embu, SVD #
Provinsial IDE