Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) III, diadakan pada tahun 2010 di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor. Tema sidang diambil dari Yoh 10: 10: "Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah." 

Salah satu hasil dari sidang agung itu adalah komitmen bersama untuk melanjutkan dialog dengan kebudayaan setempat supaya Gereja semakin mampu mengenali dan menghadirkan wajah Yesus dalam kebudayaan setempat.

Konfrater kita, Pater Agus Alfons Duka, menjadi ketua penyelenggara sidang agung tersebut. Saya ambil bagian dalam mempersiapkan dan memperlancar sidang agung tersebut. Ada banyak hal yang sangat berkesan bagi saya dari sidang tersebut. Salah satunya adalah nyanyian liturgi pada Misa Penutupan SAGKI. 

Kala itu, saya duduk di samping seorang peserta sidang, seorang musikus asal Ngada, Bapak Johny Oja. Ia adalah penggubah lagu-lagu liturgi. Ketika lagu pembukaan misa, dengan motif lagu dari budaya Ngada dinyanyikan, sang musikus meneteskan air mata.

Awalnya, saya kira ada kedukaan.  “Ada apa?” tanya saya berbisik. “Pater ini lagu Flores!” katanya. Di Bogor, dalam misa penutupan SAGKI, ia terharu dan meneteskan air mata ketika mendengar lagu Flores dinyanyikan. 

Pengalaman batiniah yang menyata dalam ungkapan haru seperti ini bukan hanya pengalaman tunggal milik sang musikus, tetapi pengalaman banyak orang.  

Musik adalah ungkapan jiwa manusia. Bukan hanya syair-syair, bukan hanya keindahan suara, tapi rasa, nada, dan melodi musiknya itu sendiri mengungkapkan isi hati dan memenuhi kerinduan jiwa seseorang. 

Dalam dan melalui musik, orang menjadi sangat intim dengan kebudayaannya, dengan sejarahnya, dengan yang awali dalam hidupnya, dan dengan Tuhannya. 

Dalam keheningan, sukacita, dan keterbukaan batin, seseorang secara sangat pribadi menyatu dengan Sang Misteri Agung yang universal melalui yang lokal, yaitu sarana budayanya sendiri.

Dalam alur pengalaman tadi, kita bisa melanjutkannya dengan ungkapan yang telah menjadi ulang-tutur, yang berasal dari tradisi Gereja Barat, Qui bene cantat, bis orat (yang bernyanyi baik berdoa dua kali). 

Lanjutan dari saya adalah, yang bernyanyi dengan rasa, nada, dan melodi budayanya sendiri berdoa dua kali. Mengapa? Tubuh, jiwa, dan tradisi kebudayaan seseorang menyatu dalam suatu madah pujian yang utuh  kepada Allah Tritunggal yang mahakudus.

Menyanyi dalam bahasa asing, termasuk dalam bahasa Latin sekalipun, dalam liturgi, tentu saja bukanlah sesuatu yang jahat, malah pasti merupakan sesuatu yang baik karena kita mesti terbuka pada kebudayaan dan bahasa lain.

Tetapi, merendahkan atau mengabaikan lagu-lagu dalam bahasa, rasa, nada dan irama dari kebudayaan asal sendiri dalam peribadatan dan pengungkapan iman kita seumumnya adalah suatu kemunduran. Tidak sekadar kemunduran, tetapi lebih dari itu, ini adalah kehilangan yang sangat serius dalam pengalaman pribadi dan komunal akan Allah.

***
Pada tahun 2025, konfrater kita John Ghono menerbitkan buku dengan judul: Pastor dan Musik Liturgi: Mewartakan kasih Allah Lewat Nada dan Melodi

Musik, secara khusus musik liturgi, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup Pater John Ghono sebagai misionaris dan religius Serikat Sabda Allah, khususnya selama lebih dari 40 tahun hidupnya sebagai imam. 

Kita mengucapkan terima kasih dan proficiat untuk Pater John Ghono SVD dan barisan panjang para samasaudara musikus yang menggubah lagu-lagu liturgi. 

Melalui lagu-lagu liturgi, mereka membantu umat untuk mengalami Allah dan mengungkapkan imannya melalui sarana dan rasa budayanya sendiri.

Dengan itu, kita tidak menjadi orang asing, tetapi sebaliknya menjadi orang-orang yang berakar pada dan berekspresi melalui kebudayaan kita sendiri. 

Tentu saja dengan kesadaran bahwa kebudayaan bukanlah suatu yang statis dan stagnan, tetapi selalu dinamis; selalu perlu revitalisasi dan tafsir ulang yang kreatif.

Dengan hadirnya banyak musikus dari wilayah Nusa Tenggara, suatu wilayah yang dulunya pada tahun 1912, dalam peta Gereja Katolik, dikenal dengan nama Kepulauan Sunda Kecil yang adalah wilayah misi yang dipercayakan oleh pimpinan Gereja kepada Societas Verbi Divini (Serikat Sabda Allah), saya hendak menegaskan lagi bahwa dalam hubungan dengan kebudayaan bangsa-bangsa, misi adalah dialog bukan monolog, bukan pemaksaan, bukan penaklukan, dan bukan peniadaan. 

Dalam hubungan dengan bangsa-bangsa dan kebudayaan, sikap misioner yang niscaya berakar pada dialog adalah solidaritas, respek, dan cinta.

Dalam hubungan dengan kebudayaan bangsa-bangsa, selain dialog, misi adalah harapan bagi bangsa-bangsa dan kebudayaannya. 

Hal tersebut diungkapkan dengan sangat baik oleh Paus Fransiskus dalam Audiensi dengan peserta Kapitel Jenderal ke-19, Serikat Sabda Allah, pada Jumat, 28 Juni 2024, di Aula Clementin, Vatikan. 

“Sebelum memberi harapan, kita perlu menjadi harapan,” tandas Paus Fransiskus. “Kalian adalah pakar dalam inkulturasi, salah satu buah karisma kalian. Selama bertahun-tahun, kalian telah belajar untuk menghayati panggilan misioner kalian dengan menunjukkan rasa hormat bagi semua budaya dan bangsa,” lanjut Paus Fransiskus dalam sambutannya.

Catatan:

Untuk samasaudara yang berminat membaca Sejarah Buku Nyanyian: Yubilate, bisa menghubungi Sekretariat Provinsi IDE. 


Popular posts from this blog