Philipus Panda Koten, SVD
+ 13 Juli 2021
Kepulangan yang Sunyi
Peristirahatan yang Senyap

Pater Lipus berpulang pada usia 57 tahun karena COVID-19. Sebelumnya, pada 5 Juni 2017, dia mengalami stroke berat.  Lipus meninggal pagi hari, pada 13 Juli 2021. Ia lahir di Larantuka, pada 11 Mei, 1964. 

Dengan mengenakan mantel khusus dan mengikuti semua protokol kesehatan, saya memberkati jenazahnya di halaman paviliun khusus untuk perawatan orang-orang yang terjangkit COVID-19, Rumah Sakit, dr. T. C. Hillers, Maumere.

Hari itu, kami menemui Sekda dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka untuk meminta agar Lipus dimakamkan di Pemakaman Misi di Ledalero. Tim dari Dinas Kesehatan sempat datang ke Pemakaman Misi, Ledalero, dan membuat penilaian. 

Sayangnya, tidak disetujui. Kala itu, banyak orang sangat takut, malah sudah sampai pada level paranoid terhadap COVID-19.

Tak ada pilihan! Tempat peristirahatan terakhirnya adalah di Pemakaman COVID-19, di Taji Manu, tak jauh dari Kampung Wolomarang. 

Sebagai pasien COVID-19, dia diisolasi total, tidak ada konfrater yang ada bersama Lipus selama ia dirawat. Tentu saja, tak ada samasaudara yang hadir ketika ia menghembuskan napasnya yang terakhir. 

Juga, tidak banyak konfrater yang mengantarnya ke pemakaman COVID-19. Hanya beberapa orang. 

Tak ada konfrater yang memimpin misa pemakamannya. Tak ada pembacaan obituari. Tak ada sambutan-sambutan. Tak ada acara penaburan bunga. 

Lipus dimakamkan pada malam hari, hanya diterangi oleh lampu ekskavator yang digunakan untuk menggali dan menutupi lagi makamnya. Suasana sangat mencekam. 

Dengan rasa sedih dan kehilangan, kami berdiri dan menyaksikan dari jauh. Baru sesudah makamnya ditutup, kami mendekat, berdiri mengelilingi makamnya, dan mendoakan dia. Suatu kepulangan yang sunyi. 

Pater Lipus adalah satu-satunya konfrater kita yang dimakamkan di pemakaman COVID-19, di Maumere. 

Nama Lipus tertera dalam Ordo Divini Offici. Pasti, pada 13 Juli, dalam misa, kita mendoakan dia bersama para konfrater dan suster dari tarekat-tarekat misi yang didirikan oleh St. Arnold Janssen, yang meninggal pada hari itu. 

***
Pada 9 Juni 2026 lalu, saya mengirim pesan WhatsApp kepada samasaudara kita Pater Bernard Boli Ujan. 

"Pater Bernard, selamat malam. Saya cuma mau sampaikan satu hal: terima kasih sudah berziarah ke Pemakaman Covid, mendoakan mereka yang berpulang karena wabah Covid, khususnya konfrater kita, Lipus Panda."

Hari itu, besama Pater Mikhael de Fretes, Marsel Vande Raring, Daniel Bunga, dan Jemi Tafuli, ia mengunjungi makam Lipus Panda, menyapanya, dan mendoakan dia. 

"Iya, Pater, kami prihatin karena jarang mengunjungi makam itu," jawab Pater Bernard. 

Suatu kunjungan, suatu jawaban, suatu keprihatinan yang merupakan suatu seruan dan panggilan agar kita tidak lalai mengenang konfrater yang sudah berpulang, membersihkan makam, dan menyalakan lilin sambil mendoakan mereka. 

Bukan hanya kepada yang berpulang, hendaknya kita juga selalu mengunjungi samasaudara kita yang sakit dan selalu mempunyai hati untuk mereka. Kita bisa mengutip Ibu Teresa dari Kalkuta, dalam konteks kita, dengan mengatakan, "The suffering of being unwanted, unloved, and uncared for is the greatest of all sufferings."

© Eman Embu, SVD
Provinsial SVD Indonesia-Ende (IDE)

Postingan populer dari blog ini